Semakin Berhikmat Supaya Semakin Bermakna dan Semakin Bermanfaat

Pesan Pastoral
Hari Ulang Tahun ke-25 Gereja Kristen Indonesia
26 Agustus 1988 – 26 Agustus 2013

“Karena oleh hikmat umurmu diperpanjang, dan tahun-tahun hidupmu ditambah”
(Amsal 9:11)

Setiap anggota jemaat dan simpatisan GKI yang kami kasihi!

Pada Agustus 2013 ini, bukan hanya negara kita, Republik Indonesia, bertambah usia menjadi 68 tahun, tetapi juga gereja kita, Gereja Kristen Indonesia, bertambah usia menjadi 25 tahun, atau seperempat abad.

Setiap kali berulang tahun, selalu ada harapan, agar jangan hanya usia kita, tetapi juga hikmat kita bertambah. Seperti kata penulis Amsal, “Karena (jangan hanya oleh kodrat, tetapi juga biarlah) oleh hikmat umurmu diperpanjang, dan tahun-tahun hidupmu ditambah” (Ams 9:11). Hikmat itu dekat dengan segala yang baik, benar dan adil, atau hal-hal yang menjadi kesukaan Allah. Ia berlawanan dengan kebodohan atau hikmat duniawi (1 Kor 3:19; 2 Kor 1:12) yang dekat dengan segala yang jahat, salah dan batil, atau hal-hal yang mengundang murka Allah. Jika hikmat bertambah seiring dengan usia yang bertambah, hidup kita pun menjadi semakin berarti, tidak sia-sia dan menyenangkan Allah. Sebab, hidup kita menjadi semakin baik, benar dan adil. Sebaliknya, jika kebodohan yang bertambah, hidup kita malah menjadi semakin kehilangan arti, sia-sia dan mengundang murka Allah. Sebab, hidup kita menjadi semakin jahat, salah dan batil.

Hidup berhikmat memang tak lain dari hidup yang mau dituntun oleh Allah. Sebab, hikmat itu sangat dekat – jika bukan identik (Yes 11:2) – dengan Allah. Ia adalah pemberian Allah (1 Raj 4:29; Ayb 12:13; Maz 51:8; Ams 2:6; Dan 2:23; Yak 1:5; dlsb). Allah menuntun kita dengan hikmat-Nya, melalui firman-Nya, yang tertulis (yaitu Kitab Suci, 2 Tim 3:15), yang tidak tertulis (yaitu perkataan orang benar, Maz 37:30; Ams 10:31), yang menjadi manusia (yaitu Yesus, Kol 2:3), dan melalui sejarah atau pengalaman hidup kita manusia (Ams 1:20), terutama yang menyesakkan hati (Pkb 1:18). Karena itu, tepatlah jika dalam usianya yang ke-25 ini, sebagai Gereja Kristen Indonesia, kita bukan hanya mengingat ulang hikmat Tuhan yang sejauh ini telah menuntun perjalanan hidup kita, tetapi kita juga terus membuka diri terhadap tuntunan hikmat-Nya dalam perjalanan hidup kita ke depan, dengan segala permasalahan dan tantangannya.

Dalam usianya yang ke-25, sebagai Gereja Kristen Indonesia, kita diingatkan oleh hikmat-Nya, bahwa kesatuan kita sebagai tubuh Kristus adalah suatu conditio sine qua non, suatu hal yang mutlak dan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Itu adalah kehendak Allah dalam Kristus (“supaya mereka semua menjadi satu”, Yoh 17:21). Itu juga adalah sumbangsih kita bagi kesatuan kita yang lebih luas dengan gereja-gereja, baik di aras nasional (PGI), maupun di aras internasional (DGI). Itu pun syarat bagi kita untuk mampu dan lebih mampu menghadapi pelbagai tantang yang semakin hari semakin besar, baik yang bersifat nasional, maupun yang bersifat global.

Keterpisahan dan keterpecahan bukan hanya akan melemahkan, tetapi juga melumpuhkan kemampuan kita sebagai gereja. Hal ini sangat perlu dan penting selalu kita ingat, karena dari tahun ke tahun, kesatuan kita selalu diuji oleh roh primordialisme dan sektarianisme yang ada di dalam diri kita sendiri. Selalu ada di antara kita sendiri yang cenderung mau berjalan sendiri dan tidak mau berjalan bersama-sama atau ber-sun-hodos lagi, bahkan mau memisahkan diri. Kita harus menyadari bersama, jika sungguh terjadi, hal itu bukan hanya dapat menjadi suatu noda terhadap komitmen kesatuan kita, tetapi juga hal itu dapat menjadi suatu dosa terhadap tubuh Kristus, bahkan kepada Kristus sendiri!

Dalam usianya yang ke-25, sebagai Gereja Kristen Indonesia, kita juga diingatkan oleh hikmat-Nya, bahwa kesatuan kita bukanlah sesuatu yang mudah, apa lagi yang murah. Selalu ada harga yang sepadan dan yang harus dibayar untuk mengikut Kristus (“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku”, Mat 16:24). Demikian juga untuk mengikuti kehendak-Nya (“menjadi satu”, Yoh 17:21). Komitmen kita kepada kesatuan GKI menuntut pengorbanan, di antaranya: identitas, kebanggaan, kebebasan, kekayaan, warisan sejarah, dlsb. Tanpa pengorbanan, kita tidak mungkin menjadi gereja yang setia kepada tugas panggilan-Nya. Kita hanya akan melanjutkan sejarah lama gereja, bahkan jemaat kita masing-masing dalam bingkai kesatuan Gereja Kristen Indonesia, tetapi sulit – jika bukan mustahil – untuk menciptakan sejarah baru kita bersama yang satu sebagai Gereja Kristen Indonesia.

Dalam usianya yang ke-25, sebagai Gereja Kristen Indonesia, kita pun diingatkan oleh hikmat-Nya, bahwa Tuhan menghendaki agar keberadaan kita biarlah semakin bermakna (signifikan) dan semakin bermanfaat (relevan), bukan hanya ke dalam, tetapi ke juga luar diri kita, kepada masyarakat, bangsa dan negara. Kita dipanggil Tuhan untuk menaruh masyarakat, bangsa dan negara kita di hati kita, supaya pada gilirannya mereka pun akan terpanggil untuk menaruh kita, gereja-Nya, di hati mereka.

Pelbagai persoalan saat ini menantang, dan memberi peluang kepada kita untuk menjadi semakin bermakna dan bermanfaat bagi masyarakat, bangsa dan negara. Di antaranya:

  • Orang miskin yang bertambah jumlahnya (menjadi 40 juta jiwa berdasarkan perhitungan internasional yaitu pengeluaran Rp 7.800,-/hari), sementara penghasilan 40 orang terkaya setara dengan pendapatan 60 juta orang paling miskin;
  • Moralitas bangsa dan terutama pemimpin bangsa yang semakin bangkrut sehingga memberi ruang bagi pelanggaran hukum, kekerasan dan korupsi yang semakin merajalela di segala bidang kehidupan;
  • Pendidikan, khususnya pendidikan menengah dan tinggi, yang tidak terjangkau dan kurang berkualitas, sehingga memperkecil harapan bagi terciptanya kelas menengah yang berkualitas untuk pembaruan kehidupan bersama ke depan;
  • Pancasila yang tidak lagi dihayati bersama sebagai dasar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara;

Harapan besar yang digantungkan pada Pemilihan Umum 2014 untuk dapat melahirkan dan menghadirkan seorang pemimpin yang berintegritas, yang berorientasi kepada penyelesaian masalah dan kepada kesejahteraan rakyat.

Akhirnya, sambil menaikkan segala syukur, puji dan hormat kepada Allah dalam Kristus yang dengan hikmat-Nya telah memimpin perjalanan hidup kita sebagai Gereja Kristen Indonesia selama 25 tahun, marilah kita mantapkan komitmen kita untuk terus berjalan ke depan, dalam langkah-langkah yang semakin satu dan semakin berhikmat, supaya keberadaan Gereja Kristen Indonesia dapat menjawab pelbagai tantangan yang ada di hadapannya. Dengan demikian, ia sungguh-sungguh dapat dirasakan semakin bermakna dan bermanfaat bagi kita sendiri, masyarakat, bangsa dan negara kita Indonesia.

“Selamat berhari-ulang-tahun ke-25 kepada setiap anggota jemaat dan simpatisan di 222 jemaat, di 19 Klasis dan di 3 Sinode Wilayah Gereja Kristen Indonesia,” kami ucapkan!

Jakarta, 25 Agustus 2013
atas nama
Badan Pekerja Majelis Sinode
Gereja Kristen Indonesia,

ttd

[one_half] Pdt. Royandi Tanudjaja

Ketua Umum [/one_half] [one_half] Pdt. Arliyanus Larosa

Sekretaris Umum [/one_half]

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *