Tampil Kinclong

Badai Harvey di Houston, Texas

SINODEGKI.ORG – Pdt. Juswantori Ichwan, ketika puluhan ribu orang harus mengungsi akibat badai Harvey, gereja Lakewood pimpinan Joel Osteen justru menutup pintu bagi mereka. Padahal gedungnya muat menampung 16.000 orang. Setelah dikritik orang banyak, Osteen memberi alasan: “Soalnya, waktu itu Pemkot tidak meminta gereja kami jadi tempat penampungan.”

Beberapa hari kemudian, lagi-lagi orang kesal mendengar berita dari kota Nashville. 150 orang pendeta Injili konservatif berkumpul dan mengeluarkan pernyataan bersama. Isinya bukan mengajak orang Kristen membantu korban bencana badai. Juga bukan berisi pesan damai, setelah terjadinya kekerasan rasial oleh kelompok ultra-nasionalis di minggu-minggu sebelumnya. Isinya malah menegaskan bahwa kelompok minoritas seksual (gay, lesbian, transgender) adalah pendosa.

Masih belum cukup, beberapa hari kemudian, pengkotbah TV terkenal, Pat Robertson (boss-nya TBN), menuduh bahwa badai Harvey terjadi gara-gara Tuhan marah pada kelompok gay. Ia bahkan menubuatkan seluruh Amerika akan dilanda banjir, jika kelompok ini dibiarkan hidup berpasangan.

Ulah kelompok konservatif ini bikin berang banyak orang, termasuk orang Kristen dan gereja-gereja. Mereka heran, koq bisa-bisanya mereka nggak sensitif terhadap situasi. Ketika masyarakat lagi butuh-butuhnya uluran tangan dan aksi perdamaian, koq mereka malah sibuk ngurusin kekudusan dan “kebersihan” gerejanya sendiri?

Saya tertarik dengan tulisan Ganzevoort & Olsman tentang Identitas Religius (2011). Sadar atau tidak, banyak Kristen memiliki kerangka beriman “kekudusan dan kemenangan” (Holiness and victory discourse). Hidup ini dipandang sebagai peperangan melawan dosa dan godaan. Yang namanya perang ‘kan harus ada musuhnya? Musuh resmi jelas: “si iblis”, tapi apa wujud nyatanya? Jawabnya: mereka yang di cap pendosa atau dibawah pengaruh iblis. Siapa kandidat yang paling cocok untuk dimasukkan dalam kategori pendosa? Banyak. Pertama, orang tak seagama. Itu kita juluki “kafir.” Lantas para pengedar narkoba, yang kita syukuri kalau dihabisi. Kandidat lain yang paling pas dan “menjual” adalah kelompok minoritas seksual. Nah, biar para pemimpin Kristen ini terlihat kudus, ia mesti berani menghakimi para pendosa. Istilah kerennya, “menyampaikan suara kenabian.” Makin orang lain terlihat hitam kelam, makin ia terlihat putih kinclong. Makin ia bisa menunjukkan bahwa orang lain hidup “ber-kekalahan”, makin ia merasa hidup berkemenangan. Terbang tinggi bagai rajawali, sambil melihat para pendosa kebanjiran di bawah sana.

Penonjolan kekudusan sering membuahkan kemunafikan. Kesibukan menghakimi cenderung bikin orang lupa bercermin. Pat Robertson sangat keras waktu bicara soal kekudusan seksual. Orang sampai kaget waktu anak pertamanya lahir cuma 10 minggu setelah ia menikah! Biar tidak ketahuan, ia lantas mengubah tanggal pernikahannya (dan ketahuan oleh awak media). Di beberapa kesempatan, acara TV yang dipimpinnya (“The 700 Club”) dikecam karena ia suka merendahkan perempuan. Pernah seorang ibu mengeluh bahwa ia sulit mengampuni suaminya yang selingkuh, lalu minta pendapat. Robertson malah menyalahkan si ibu. Dia bilang, yang namanya laki-laki dari sono-nya memang suka sama perempuan cantik dan langsing. Perhatikan ungkapannya: “He’s a man… Man just can’t help it.. because males are wired to see a hot woman and get worked up over it, and they cannot resist.” Kasar dan seksis. Jadi, si ibu bersalah karena gagal untuk tampil langsing dan cantik demi merebut hati suaminya. Astaganaga!

Untuk menjalani hidup beriman, kita tidak harus memakai kerangka beriman “kekudusan dan kemenangan”. Kita bisa juga memakai kerangka beriman lain, misalnya “responsbility discourse.” Disini, hidup dipandang sebagai pertanggungjawaban kita kepada Tuhan dan sesama. Jadi, alih-alih sibuk mikirin bagaimana caranya biar diri ini lebih kudus dan kinclong (ketimbang orang lain), fokusnya lebih kepada apa yang perlu kita perbuat bagi sesama.

Nancy Ammerman menjuluki orang Kristen model ini sebagai GRC alias “Golden Rule Christian,” sebab hidupnya bertumpu pada ajaran Kristus: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.” (Mat 7:12). Orang-orang GRC biasanya lebih bersahabat, manusiawi, toleran, bisa menghargai perbedaan dan keragaman.

Di waktu topan melanda Houston, beberapa gereja berinisiatif membuka gedungnya untuk menampung korban bencana, tanpa menunggu perintah Pemkot. Para GRC sibuk membantu. Begitu pula 17-18 mesjid di wilayah mayoritas Kristen itu. Mereka buka 24 jam sehari. M.J. Khan, pimpinan The Islamic Society, berkata pada CNN: “Mesjid-mesjid ini terbuka bagi siapa saja tanpa memandang agama… setiap yang datang akan kami perlakukan sebagai tamu VIP.” Tiap hari mereka membagi-bagikan makanan dan pakaian, serta boneka bagi anak-anak. “Di saat-saat seperti ini, kita semuanya adalah satu keluarga,” katanya.

Orang-orang ini dari tampak luar mungkin tidak terlihat kinclong.
Tapi hatinya kinclong!

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *