Tegas dan Mengasihi

Banyak orang gampang terjatuh pada salah satu kubu secara ekstrim ketika menilai sesuatu. Hasil penilaian hanya dua: benar atau salah, hitam atau putih. Kalau yang satu benar maka yang lain pasti salah. Padahal hidup ini kaya warna, bukan hanya hitam atau putih.

Cara menilai hitam atau putih ini pun sering terjadi dalam menilai seorang pemimpin. Pemimpin yang tegas, yang menjaga agar organisasi berjalan sesuai dengan aturan yang telah disepakati bersama, dilabeli kaku, legalistik, hitam; sedangkan pemimpin yang toleran pada pelanggaran, yang sering mengabaikan peraturan yang sudah disepakati bersama, dilabeli pemimpin bijak, demokratis, penuh kasih.

Orang suka lupa bahwa demokrasi itu justru membutuhkan undang-undang atau peraturan serta ketegasan dalam memberlakukan undang-undang itu, sehingga tak terjadi kesewenang-wenangan dari sang pemimpin atau penguasa, dan memberi efek jera bagi pelaku kejahatan. 

Sahabat… sesungguhnya, baik ketegasan dalam melaksanakan aturan yang sudah disepakati bersama supaya terjadi ketertiban maupun kasih kedua-duanya diperlukan oleh seorang peminpin. Dua hal ini tidak perlu dipertentangkan. Rasul Paulus mengingatkan: “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. (2 Tim. 1:7). Ketegasan dalam menjalankan aturan diperlukan untuk menghindari subjektivitas dan kesewenang-wenangan serta menjaga ketertiban; namun semangat dalam melaksanakannya bukan semangat menghukum atau menghancurkan, melainkan mengasihi dan membangun. Pemimpin harus tegas dan sekaligus mengasihi.

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *