Umat Kristen adalah Masa Lalu, Sekarang, dan Harus menjadi Masa Depan

Uskup Agung Canterbury, Justin Welby

YORDANIA, SINODEGKI.ORG – Uskup Agung Canterbury Justin Welby meminta bantuan lebih banyak agar orang-orang Kristen tetap tinggal di Timur Tengah, meskipun perang dan meningkatnya ekstrimis Islam.

Hal ini disampaikan Uskup Agung belum lama ini, saat bertemu dengan pengungsi Irak di Yordania, di mana banyak orang Kristen Irak dan Suriah telah melarikan diri. Uskup Agung mengatakan bahwa, umat Kristen ‘adalah masa lalu di Timur Tengah, mereka adalah masa kini dan mereka pastilah masa depan’

Dua lusin pengungsi dari Irak berdoa bersama Uskup Agung di gereja Anglikan St Paul di Amman, sebelum memintanya untuk membantu mereka meninggalkan Timur Tengah. Uskup Agung juga bertemu dengan Raja Yordania Abdullah II dan mengunjungi kamp pengungsi Zaatari.

Kamp pengungsi Zaatari adalah rumah bagi sekitar 80.000 orang yang telah meninggalkan Suriah yang dilanda perang, dan sekarang merupakan kota terbesar keempat di Yordania. Uskup Agung Welby mengatakan bahwa ‘banyak pengungsi di sini mengalami trauma dari Suriah, dan banyak yang menderita masalah pernafasan akibat debu dan angin’.

Timur Tengah adalah rumah bagi komunitas Kristen tertua di dunia, namun sejumlah besar telah melarikan diri dalam beberapa tahun terakhir untuk melepaskan diri dari perang dan ekstremisme Islam.Di Gereja Penebus di Amman kemarin malam, lonceng terdengar menyambut sang Uskup Agung untuk sebuah layanan doa puji-pujian dengan sekitar seratus orang Yordania, Irak dan orang Kristen lainnya.Di gereja tersebut, Welby menyampaikan permohonan agar lebih banyak dukungan bagi pengungsi dari Timur Tengah, termasuk orang-orang Kristen.

Seorang Kristen dari Mosul, Bassam Adam, mengatakan bahwa dia melarikan diri dari Irak ‘tanpa apa-apa selain pakaian di punggung kami’ setelah apa yang disebut Negara Islam melakukan serangan di kota pada tahun 2014. Adam mengatakan bahwa intoleransi berakar kuat di Irak, ‘bahkan di benak anak-anak’ dan bahwa Muslim Irak akan melempar batu ke bus sekolah Kristen. “Mereka menganggap kita sebagai orang kelas dua,” katanya. “Bagaimana kita bisa hidup bersama?”

Pada kesempatan itu, Uskup Agung merefleksikan di Facebook tentang kunjungannya ke Yordania: “Orang-orang Kristen Irak yang saya temui mengatakan bahwa, mereka merasa dunia telah melupakan mereka, karena fokus masyarakat internasional sekarang berada di Suriah. Orang-orang Irak, menurut mereka, berada di urutan paling bawah dalam hal pemukiman kembali atau dukungan, ” katanya.  “Seorang wanita mengatakan kepada saya, bahwa dia dapat menahan penganiayaan sebagai orang Kristen karena Alkitab mengajarkan hal itu. Namun yang tidak dia duga adalah bahwa gereja di seluruh dunia akan mengabaikan keadaan mereka. Saat kami pergi, saya berdoa untuk perlindungan Tuhan atas komunitas mereka. Dan saya berdoa agar kita, Gereja Barat, akan berembuk untuk melakukan sesuatu. Kita adalah manusia dengan saudara dan saudari kita yang teraniaya. Kita harus memeluk mereka. Serta mendukung masyarakat di Inggris yang telah menerima migran, kita perlu terus menyambut orang-orang yang kehilangan tempat tinggal. Kita juga harus menemukan cara untuk memperbaiki keadaan di wilayah ini. Kami tidak menginginkan Timur Tengah tanpa orang Kristen. Orang-orang Kristen memiliki sejarah panjang di Timur Tengah, mereka masih di sini, dan pastilah mereka pastilah bagian dari masa depannya.” Tulisnya.

Duta Besar Inggris untuk Yordania, Edward Oakden, yang juga menghadiri kebaktian tersebut, mengatakan kepada Associated Press: “Sepanjang sejarah manusia, ada banyak kemenangan semangat manusia, ini akan menjadi satu lagi. Kunjungan Uskup Agung membantu menciptakan rasa harapan, harapan dan kemungkinan masa depan. “ (pgi.or.id/spw)

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *