Wanita Arab dan Yahudi, Bersatu Serukan Perdamaian

SINODEGKI.ORG – 4000 wanita berkumpul di Qasr el Yahud, lokasi pembaptisan di tepi sungai Yordan. Mereka berkumpul untuk mendesak perdamaian, dan mereka berasal dari berbagai negara, muda dan tua, orang Palestina dan Israel. Beberapa wanita mengabadikan momen itu dengan telepon genggam mereka, dan sementara yang lain menggendong bayi mereka.

Banyak diantara mereka mengenakan

Ribuan wanita berkumpul dalam Women Wage Peace menyuarakan perdamaian Israel dan Palestina. Photo by Hadas Parush/Flash90
Ribuan wanita berkumpul dalam Women Wage Peace menyuarakan perdamaian Israel dan Palestina. Photo by Hadas Parush/Flash90

T-Shirt bertuliskan “Women Wage Peace” dalam bahasa Ibrani, Inggris, dan Arab. Seorang wanita Israel mengenakan T-Shirt lengan pendek, sementara seorang wanita Palestina yang lebih tua mengenakan hijab hitam. Mereka bergoyang dalam tabuhan gendang dan tamborin, serta meneriakkan: “Hei, kamu, perjalanan wanita untuk perdamaian!”

Sesaat kemudian mereka berjalan menuju lembah Yordan dan duduk di tanah. Pemenang Nobel Perdamaian Leymah Gbowee, berdiri dan berbicara.

“Apabila anda melihat barisan ini dan anda tidak melihat harapan, anda tidak melihat perdamaian, anda buta. Apa yang kami, wanita, lakukan hari ini adalah membuktikan bahwa kami, wanita Israel, wanita Palestina, adalah mitra untuk perdamaian!” ujar Gbowee.

Kegiatan ini dihadiri 1000 wanita Palestina, dan 3000 wanita Israel, keduanya berasal dari Yahudi dan Arab. Kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan dari 2 minggu kampanye perdamaian yang mereka lakukan sejak bulan Oktober. Kegiatan dimulai dari perbatasan Israel dengan Libanon, dan berakhir di Yerusalem. Kegiatan ini digerakkan oleh Women Wage Peace yang menyatukan Yahudi dan Arab untuk menggerakkan negosiasi antara Israel dan Palestina.

Anggota gerakan ini 10000 wanita, 10 persennya adalah orang Arab dan sisanya Yahudi. Penyelenggara menyatakan bahwa wanita-wanita dari Arab sulit untuk bergabung karena ada batasan sosial yang menghalangi mereka. Namun mereka yang sudah bergabung sepakat bahwa mereka tidak akan berhenti bersuara sebelum ada negosiasi.

Pergerakan ini dimulai pada 19 Oktober lalu di depan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, hampir 20000 wanita berkumpul menyuarakan perdamaian antara Israel dengan Palestina. Mereka berjuang karena selama ini mereka telah menyaksikan beberapa negosiasi yang gagal, kekerasan yang terus-menerus terjadi, dan tidak ada politisi yang mau menyuarakan perdamaian.

Penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan wanita dalam proses perdamaian adalah sebuah kemungkinan dan berlangsung lama. Pada bulan Mei 2000, Isreal menarik pasukan dari Libanon karena demonstrasi yang dilakukan ibu-ibu dari tentara yang terlibat perang. Apakah saat ini unjuk rasa yang dilakukan ribuan wanita dapat mendamaikan dua wilayah yang terpisahkan?

“Penelitian mengungkapkan bahwa 40 proses perdamaian di 35 negara, dalam 3 dekade ini, didalamnya terjadi peran aktif dari para wanita. Apakah itu melalui partai politik, atau kampanye aktif. Beberapa negosiasi perdamaian bahkan hampir terjadi karenanya. Kami sudah pernah bekerja dengan wanita Isreal dan Palestina, mereka adalah pekerja-pekerja tanpa lelah yang terus berjuang demi perdamaian. Yang penting adalah bagaimana bekerjasama dengan pemerintah dan memastikan bahwa pesan disampaikan dengan baik,” ujar Marie O’Reilly, peneliti dari Universitas Cambridge.

“Kami sudah menyusun gerakan ini untuk 4 tahun, tujuan kami bukan membentuk organisasi, kami memperjuangkan negosiasi perdamaian, begitu negosiasi itu terjadi, kami akan membubarkan diri. Kami memiliki tujuan yang jelas, dan harapan yang besar,” ujar Hamutal Gouri, koordinator dana untuk aksi. (csmonitor.com/spw)

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *