Dalektika Kitab Suci

Pdt. Albertus Patty,

Elisabeth Schϋssler Fiorenza mengungkapkan tentang adanya a dialectical use of the Bible, pemanfaatan dialektis Kitab Suci. Maksud Fiorenza adalah ini. Sesungguhnya, di sepanjang sejarahnya, umat manusia telah menggunakan dan melakukan interpretasi terhadap Alkitab secara dialektis. 

Pada satu sisi, ada orang yang mengginterpretasikan Kitab Suci untuk mengabsahkan perbudakan dan penindasan terhadap sesamanya, termasuk terhadap kaum perempuan. Melalui justifikasi Kitab Suci itu mereka bisa melakukan praktek penindasan secara nyaman karena mereka yakin bahwa apa yang mereka lakukan sesuai dengan kehendak Allah. 

Pada sisi lain, sebagian orang, terutama mereka yang ditindas dan yang mengalami ketidakadilan, menginterpretasikan Kitab Suci untuk memperkuat spiritualitas mereka dan untuk melawan praktek-praktek penindasan dan ketidakadilan yang terjadi. Berdasarkan interpretasi itu, mereka nyatakan bahwa praktek subordinasi dan penindasan terhadap siapa pun, termasuk terhadap kaum perempuan adalah sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai dan dengan kehendak Allah.

Yang menarik, tanpa dukungan dan justifikasi ayat-ayat Kitab Suci, pihak lawan akan mengeritik sikap hidup dan pandangan mereka dan memberi label “sekuler” atau “liberal,” suatu eufimisme dari kata “sesat.” Yang menarik bahwa meski keduanya menggunakan ayat-ayat suci, kesimpulan yang diraih bisa bertolak-belakang.

Melihat penggunaan yang dialektis dengan hasil yang paradoks seperti ini, kita bisa simpulkan bahwa yang terpenting bukan apakah pandangan anda sudah mendapat justifikasi teologis berdasarkan ayat-ayat Kitab Suci, tetapi bagaimana anda menggunakan Kitab Suci untuk menjustifikasi pandangan anda. Baik penindas maupun yang ditindas sama-sama bisa menggunakan Kitab Suci untuk menopamg posisinya. Mereka yang doyan perang maupun yang suka perdamaian bisa mengabsahkan posisinya dengan ayat-ayat Kitab Suci. Keduanya sama-sama benar. Bedanya yang satu bermoral yang lain amoral, yang satu memilih untuk menjadi beradab, yang lain memilih untuk menjadi biadab.

Silahkan pilih!

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *