Dari Relasi Transaksional ke Relasi yang Tulus

Tanpa sadar, relasi kita dengan sesama, bahkan terkadang dengan orang-orang yang kita cintai, sering bersifat transaksional. Kita sering mengharapkan imbalan dari apa yang kita lakukan kepada dia atau mereka. Kebaikan yang kita lakukan kita harapkan dibalas dengan kebaikan juga. Akibatnya kita sering kecewa, bahkan merasa terluka, dalam relasi dengan sesama. Sebab apa yang kita harapkan tidak selalu sejalan dengan yang kita alami.

Relasi yang dibangun dalam semangat transaksional memang potensial menghasilkan kepedihan, bahkan rentan retak. Pada titik tertentu, persahabatan transaksional ini hanya akan menyakiti diri dan lalu menyakiti sesama. Karena itu persahabatan tidak boleh dibangun dalam semangat transaksional. Persahabatan harus dibangun dengan ketulusan. Ketika hendak membangun persahabatan, apalagi relasi cinta dengan seseorang, pastikan bahwa hati kita dikuasai oleh ketulusan. Artinya kita menyiapkan hati untuk tidak mendapatkan apa-apa. Apapun yang kita lakukan pastikan bukan demi mendapatkan sesuatu. Anggaplah sebagai sebuah anugerah kalau di dalamnya kita mendapatkan sesuatu.

Relasi yang dibangun dalam ketulusan pasti tidak akan mengecewakan. Sebaliknya relasi yang tulus ini akan mendatangkan kegembiraan, potensial bertahan sepanjang usia, dan mampu menyelesaikan kesalahpahaman apapun yang mungkin terjadi dalam dalam proses berelasi.

Inilah yang diperlihatkan dan dibanggakan Paulus dalam relasinya dengan umat di Korintus. “Inilah yang kami megahkan, yaitu bahwa suara hati kami memberi kesaksian kepada kami, bahwa hidup kami di dunia ini, khususnya dalam hubungan kami dengan kamu, dikuasai oleh ketulusan dan kemurnian dari Allah bukan oleh hikmat duniawi, tetapi oleh kekuatan kasih karunia Allah.” (2 Kor. 1:12).

Mari bergerak dari relasi transaksional ke relasi yang tulus.

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *