Ibadah dimana?

Pdt. Essy Eisen,

Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia;

(Yoh. 17:18)

Sekelompok pemuda mengadakan camp bersama. Di tengah kawasan hijau pegunungan itu diadakan ibadah bersama. Dalam renungannya Sang Pendeta mengatakan demikian: “Saudara-saudara, kita harus sering-sering kebaktian di luar gereja seperti ini.” Seorang pemuda langsung nyeletuk “Setuju pak, sering-sering saja jalan-jalan seperti ini.” Di sambut riuh tawa pemuda lain. “Bukan itu maksud saya,” katanya. “Maksud saya, bahwa kebaktian kita seharusnya tidak hanya di gereja, tetapi juga di tengah dunia nyata keseharian hidup kita masing-masing. Entah di kampus, di tempat kerja, di keluarga, tubuh kita harus dipersembahkan sebagai persembahan yang hidup bagi Allah!”

Yesus tidak meminta supaya Allah mengasingkan pengikut-Nya dari dunia, tetapi justru digunakan Allah untuk menjadi saksi kebaikan-Nya di tengah dunia. Dalam kesempatan lain, Yesus menegaskan bahwa pengikut-Nya itu adalah garam dan terang dunia (Mat 5:13-16). Garam dan terang adalah sesuatu yang tidak asing di dalam dunia, tetapi manfaatnya besar. Garam mencegah kebusukan, terang melenyapkan kegelapan dan membuat orang untuk dapat memiliki orientasi yang jelas dalam kehidupannya. Yesus berdoa, supaya setiap orang yang mengikuti-Nya tetap ada dalam kesatuan kasih, menang atas kejahatan, dan tetap memelihara relasi yang akrab dengan-Nya.

Youth, setiap selesai mengikuti ibadah, kita diutus Allah ke tengah dunia. Ibadah dalam arti yang luas dimulai. Meja kuliah, meja kerja, menjadi altar bagi kita berjumpa dengan Allah dan membuat karya-Nya nyata membarui pola pikir dan tindakan kita. Kristus diutus ke dalam dunia. Begitu juga Ia mengutus kita ke dalam dunia keseharian kita. Jangan lupakan ini.

Apakah altar perjumpaan kita dengan Allah sebatas di gereja saja? Mengapa?

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *