Jangan Biarkan Kebahagiaan kita dirampas

Jangan Biarkan Kebahagiaan kita dirampas

Pengkhotbah 8:14

Dalam logika keagamaan yang sederhana ada keyakinan yang cukup kuat bahwa orang saleh atau takut akan Tuhan semestinya mendapat berkat atau kesejahteraan atau pahala, sedangkan orang yang melakukan kesalahan atau kejahatan pantasnya mendapat hukuman. Hukum positif memperkuat logika kepercayaan sederhana ini. Orang yang melakukan kejahatan atau melanggar hukum dibawa ke pengadilan untuk mendapat hukuman. Pada kenyataannya logika keagamaan seperti ini sering sekali tidak operasional. Seperti diamati Pengkhotbah: “ada orang-orang benar, yang mendapat ganjaran yang layak untuk perbuatan orang benar. “ (Pkh. 8:14). Kenyataan seperti ini dapat membuat kita gusar bahkan terkadang disusul oleh amarah, karena yang kita imani berbeda dengan yang kita alami atau amati. Lalu damai dan kegembiraan yang sudah Allah sediakan pun gagal kita alami.

Hidup memang tak selalu berjalan linier. Lagi pula kita tak dapat mengatur segala sesuatu agar sesuai dengan yang kita inginkan, harapkan, atau imani. Yang penting jangan biarkan apa pun atau siapa pun merampas kegembiraan dan damai yang sudah Allah sediakan dalam hidup kita. Kegembiraan dan kedamaian hidup ini terlalu berharga untuk dikorbankan demi penyelarasan antara yang kita imani dan alami. (Pkh. 8:15). Karena itu mari terus belajar menerima apa yang tidak kita sukai. Dengan penerimaan seperti ini, kita akan tetap dapat merasakan kegembiraan dan kedamaian dalam hidup ini meskipun harus mengalami hal-hal yang tak sesuai dengan yang kita inginkan, harapkan, bahkan imani.

Pdt. Arliyanus Larosa

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *