Merawat Alam Dengan Semangat Spiritualitas Ekofeminis

Semakin marak disuarakan agar manusia hidup semakin selaras dengan lingkungan hidupnya melalui Komunitas Peduli lingkungan, Pemerintah (walau kurang mendapat porsi yang penting), maupun melalui pengajaran Gereja (khotbah, katekisasi, sekolah minggu – walau masih belum mendapat posisi penting dalam Gereja), namun kurang menyadari bahwa isu lingkungan hidup berkaitan dengan isu perempuan.

Pola laku manusia yang menindas alam sejajar dengan pola laku dalam masyarakat yang menindas perempuan.  Jadi ada keterkaitan antara isu feminis dan ekologis. Ekofeminisme lahir dari gerakan ekologi yang membela kehidupan alam berpadu dengan gerakan feminis yang membela kehidupan perempuan yang mengalami diskriminasi dalam budaya dan struktur sosial yang di dalamnya ada ketidakadilan gender dan ras yang dihubungkan pada ideologi eksploitasi dan degradasi lingkungan [1].

Ada beberapa faktor yang mendasar yang menurut saya sangat memengaruhi krisis ekologi dan dampaknya terhadap eksistensi perempuan dalam kesatuannya dengan alam:

  1. Pandangan dualisme manusia dan alam. Dalam pandangan ini, laki-laki dianggap sebagai manusia yang sempurna, sehingga perempuan tidak mendapat tempat dalam porsi manusia, karenanya perempuan lebih di-identikkan dengan alam. Konsekuensinya perempuan dan alam dapat dikuasainya [2].
  2. Konstruksi pemikiran hierarki patriarkhal yang sudah mapan dalam tradisi Kekristenan yang berat sebelah, yang memberikan kepada manusia penguasaan atas alam. Pandangan seperti ini merujuk pada kitab Kejadian 1-3, yang menggambarkan sebuah justifikasi Allah memberikan amanat kepada manusia (merujuk pada Adam) untuk menguasai dan menaklukkan bumi [3].

Dari kenyataan tersebut, kalangan ekofeminis melihat bahwa ada semacam struktur hierarki patriarkhal yang sangat kuat, di mana sifat maskulin diidentifikasi lebih rasional sedangkan alam tidak rasional, hanya pasif, karena fungsinya yang hanya menghasilkan. Fungsi hanya menghasilkan ini diidentifikasi sama dengan perempuan yang sifatnya pasif. Sifat pasif dilekatkan kepada perempuan dengan sistem reproduksi-nya yang melahirkan, mengerjakan tugas-tugas rumah tangga, menyediakan kehidupan pangan yang tergantung pada alam.
Alam tidak hanya dipandang sebagai fungsi alat(menghasilkan), tetapi pemberi kehidupan. Prinsip tersebut adalah prinsip feminin, sama seperti Ibu yang mengandung benih kehidupan, dan melahirka nkehidupan. Jadi tidaklah berlebihan kalau alam disimbolkan sebagai Ibu. Pemahaman seperti ini bukan saja lahir dari sebuah proses identifikasi semata, melainkan ada sebuah semangat yang dibangun untuk mewakili eksistensi perempuan dengan alam. Semangat yang dibangun itu tidak lain adalah spiritualitas yang lebih holistik yang melekat pada alam yang mewakili totalitas hidup perempuan. Menurut Starhawk sebagaimana dikutip oleh Rosemarie Putnam Tong, Spiritualitas yang dimaksud adalah spiritualitas yang Earth Based (berbasis bumi) [4]:

  1. Spiritualitas yang immanence. Allah (Goddess: juga memaknai Allah sebagai Ibu); Allah yang hadir dalam dunia, dalam manusia dan dalam karya ciptaan-Nya. Kekuasaan-Nya bukan kekuasaan yang mendominasi.
  2. Spiritualitas Interconnection. Saling keterhubungan antara seluruh keberadaan kita sebagai manusia di mana tubuh dan jiwa menyatu yang di dalamnya ada kesetiaan, cinta, bela-rasa, intelektualitas, itu juga merupakan bagian dari alam. Kita dengan alam sejatinya saling terhubung satu dengan yang lain, tidak terpisah. Kita adalah bagian dari alam ini.
  3. Spiritualitas Compassionate. Sikap hidup yang berbela rasa, mencintai, dan merawat. Dengan sikap hidup demikian kita ikut serta dalam proses merajut bersama sebuah kehidupan yang baru.

Spiritualitas Ekofeminis dapat menjadi landasan gerakan lingkungan hidup berbasis perempuan, namun tidak terjebak pada mengembalikan perempuan pada anggapan kodrat “ya kalau demikian tugas menjaga, merawat adalah tugas perempuan saja” yang melemahkan perempuan. Yang seharusnya mendapat perhatian adalah cara berpikir Ekofeminis dimana Spiritualitas Ekofeminis menjadi semangat untuk mengajak kita melihat adanya pola relasi yang menindas dalam wacana lingkungan hidup yang berdampa kpada ketidakadilan dalam relasi dalam masyarakat.

Spiritualitas Ekofeminis menjadi semangat dasar kita sebagai manusia untuk berjuang merawat alam ini demi keberlangsungan bumi berdasarkan kesadaran feminis. Dengan demikian maka keberlanjutan bumi, ketersediaan energi, terciptanya relasi yang setara dalam masyarakat menjadi niscaya.

[1] Rosemary Radford Ruether, Gaia and God, hlm. 2. Lihat juga Noel Sturgeon, Ecofeminist Natures: Race, Gender, Feminist Theory and Political Action, (London: Routledge 1997), hlm. 23.
[2] Anne Primavesi, From Apocalypse to Genesis: Ecology, Theology and Christianity, (Minneapolis: Fortress Press, 1991), hlm. 48.
[3] Rosemary Radfort Ruether,  Sexism and God – Thought, (London: SCMPress, 1983), hlm. 65.
[4] Rosemarie Putnam Tong, Feminist Thought :  A More Comprehensive Introduction, (Colorado: Westview Press, 1998), hlm. 262.

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *