Perut dan Barang

Pdt. Rinto Tampubolon,

“Siapa mengerjakan tanahnya, akan kenyang dengan makanan, tetapi siapa mengejar barang yang sia-sia, tidak berakal budi” (Amsal 12:11).

Siapa orang yang tidak memiliki keinginan? Setiap orang tentunya memiliki keinginan. Tidak ada orang tanpa keinginan. Bahkan berkata bahwa saya tidak memiliki keinginan pun adalah sebuah bentuk keinginan.

Tetapi, tidak setiap keinginan adalah sebuah kebutuhan. Kebutuhan adalah sesuatu yang harus ada dalam kondisi apapun, sedangkan keinginan adalah sebuah pelengkap dari kebutuhan. Makan adalah kebutuhan tetapi rasa makanan adalah keinginan. Rumah adalah kebutuhan tetapi type rumah adalah keinginan. Sehat adalah kebutuhan tetapi kelas ruang rumah sakit adalah keinginan. Tidur adalah kebutuhan tetapi kualitas kasur dan bantal adalah keinginan.

Di dalam dunia ini ada banyak orang yang lelah dan sia-sia hidupnya bukan karena untuk memenuhi kebutuhannya, tetapi lelah karena ia mengejar keinginannya. Karena itulah Amsal 12:11 mengatakan: “siapa mengerjakan tanahnya, akan kenyang dengan makanan, tetapi siapa mengejar barang yang sia-sia, tidak berakal budi”.

Amsal menyimbolkan kebutuhan dengan gambaran “perut” (kenyang) dan “barang” sebagai keinginan. Menurut Amsal, bekerja (mengolah tanah) sebenarnya lebih dari cukup untuk memenuhi “perut” (kebutuhan). Tetapi sebaliknya bekerja tidak akan pernah cukup untuk memenuhi “barang” (keinginan).

Keinginan tidak akan pernah dapat di kejar dengan bekerja. Sekeras apapun dan secerdas apapun seseorang bekerja, keinginan akan selalu berlari mencandai hatinya yang tak mampu menahan diri. Karena itulah Amsal mengatakan bekerja untuk mengejar keinginan adalah tindakan sia-sia yang tidak berakal budi.

Bekerja menurut Amsal bukanlah dalam rangka mengejar keinginan, tetapi memenuhi kebutuhan. Dengan demikian bekerja tidak pernah menjadi beban yang memberatkan dan perjalanan yang melelahkan.

Bekerja yang tidak mengejar keinginan tidak akan mengabaikan keluarga dan pelayanan, Bekerja yang tidak mengejar keinginan tidak membuat diri kehilangan sukacita dan kedamaian. Bekerja yang tidak mengejar keinginan tidak membuat diri jatuh dalam kejahatan. Bekerja yang tidak mengejar keinginan membuat hari-hari selalu memiliki keindahan hidup dan rasa syukur.

Telisiklah diri Saudara, apakah Saudara terlalu lelah bekerja terus menerus dalam hidup saudara dan itu bukan dikarenakan jenis pekerjaan saudara? Jika iya, mungkin Saudara perlu bertanya mengapa. Jangan-jangan Saudara sedang mengejar kesia-siaan. Mintalah hikmat Tuhan agar diri menjadi tahu membedakan mana “perut” atau kebutuhan dan mana “barang” atau keinginan.

 

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *