Pesan Pastoral Paskah BPMS GKI: Kebangkitan Kristus bukan hoax

SINODEGKI.ORG – Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) Gereja Kristen Indonesia (GKI) dalam pesan pastoral untuk Paskah 2017 menyerukan agar umat menghindari perdebatan teoretis ilmiah maupun adu keyakinan agama dalam menghadapi anggapan bahwa kebangkitan Yesus yang dirayakan melalui Paskah adalah berita palsu atau hoax.

Menurut gereja yang memiliki 250.000 anggota yang tersebar di 225 jemaat ini, perdebatan semacam itu tidak dapat mengubah pendapat yang mengatakan Paskah adalah hoax.

“Hanya pengalaman rohani yang bisa. Jika gereja masih menjadikan pemberitaan Injil kebangkitan sebagai misinya, maka tugas utama gereja bukanlah meyakinkan orang melalui perdebatan atau adu keyakinan, melainkan memfasilitasi pengalaman-pengalaman rohani yang menyatakan Yesus hidup dan hadir dalam kehidupan dan pelayanan umat,” demikian pesan pastoral yang ditandatangani oleh Ketua Umum, Pdt Budi Cahyono Sugeng, dan Sekretaris Umum, Pdt Arliyanus Larosa.

GKI, yang merupakan penyatuan dari GKI Jawa Barat, GKI Jawa Tengah, dan GKI Jawa Timur, lebih jauh mengatakan bahwa Gereja sebagai tubuh Yesus menjadi wujudNya yang hidup di masa kini, yang melanjutkan pekerjaan-pekerjaan Yesus seperti dituliskan di dalam Injil-injil.

Melalui persekutuan umat yang seperti itu, “orang akan mengalami secara konkret pengampunan, penerimaan, penghargaan, penyembuhan, pembaruan pribadi dan kedahsyatan cinta Ilahi,” demikian pesan pastoral itu, yang pada hari ini (16/04) disebar-luaskan melalui warta jemaat dalam ibadah.

GKI yang  yang dulunya dikenal dengan nama Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee (THKTKH) yaitu suatu gereja berbahasa Hokian, juga mengaitkan pesan pastoralnya dengan Pilkada serentak di Indonesia yang diwarnai situasi konflik agama.

Dikatakan, dalam situasi yang seperti itu, berita kebangkitan Yesus menjadi pendingin suasana.

“Dengan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus, maka relasi-relasi menjadi berpulih, meneguhkan orang yang tidak percaya menjadi percaya, dan kemudian mendorong umat Tuhan menjadi rekonsiliator dunia. Itulah pengalaman-pengalaman rohani yang menunjukkan bahwa berita Paskah bukan hoax, sebab hoax tidak dapat menghasilkan kebaikan-kebaikan semacam itu,”  demikian pesan pastoral gereja yang juga adalah anggota Persekutuan gereja-gereja di Indonesia (PGI).

Kebangkitan Yesus sebagai Hoax

Dalam pesan pastoral itu dikatakan bahwa dalam zaman yang berlimpah informasi ini, tidak semua informasi yang kita terima dapat dipercaya.

Teknologi komunikasi dan informasi juga mudah dimanfaatkan untuk maksud-maksud yang jahat. Di antaranya dalam bentuk berita bohong atau hoax.

“Sudah banyak orang menjadi korban penipuan dan penyesatan hoax.  Kerugiannya mencakup kehilangan materi sampai putusnya hubungan persahabatan,” demikian pesan pastoral GKI yang mempunyai afiliasi dengan tidak kurang 38 badan pendidikan terkemuka di Indonesia, termasuk BPK Penabur, PPPK Petra, STT Jakarta, UKRIDA Jakarta, UKM Marantha di Bandung, UKDW di Yogyakarta, UKSW di Salatiga dan Universitas Kristen Petra di Surabaya.

Dan, hal ini bukan baru. Sebab kebangkitan Yesus juga awalnya dipandang sebagai berita hoax. “Bahkan murid-muridnya sendiri pun mula-mula tidak yakin sampai mereka mengalami sendiri didatangi oleh Sang Guru yang tangan dan kakinya berlubang,” kata gereja yang secara resmi berdiri pada 26 Agustus 1988 tetapi cikal bakalnya sudah ada sejak zaman sebelum kemerdekaan.

Dikatakan bahwa Rasul Paulus yang dahulu dikenal sebagai Saulus,  pun mula-mula termasuk yang menganggap berita Paskah sebagai hoax. Akibatnya, tanpa ragu-ragu ia bergabung dengan gerakan pemberantasan kelompok pengikut Yesus yang dianggapnya gerombolan penyebar hoax yang menistakan agamanya.

Di Inggris, seperempat dari orang-orang Kristen yang menjadi responden jajak pendapat yang diselenggarakan oleh BBC bersama Comres Global, baru-baru ini, mengatakan tidak percaya pada kebangkitan Yesus. Bahkan bila responden yang bukan Kristen turut dihitung, maka jumlahnya bertambah menjadi setengah dari seluruh responden mengatakan tidak percaya pada kebangkitan Yesus.

Uniknya, 9 persen dari mereka yang dikategorikan non-religius justru percaya pada kebangkitan Yesus dan ada 1 persen yang mengatakan mereka percaya hal itu secara literal.

Pesan pastoral GKI mengatakan, mereka yang tidak percaya pada kebangkitan Yesus, baru akan dapat mengubah pendapatnya bila mereka, sama seperti 11 murid Yesus dan Saulus, melalui pengalaman rohani berupa perjumpaan dengan Yesus.

“Pengalaman rohani itu bukan hanya mengubah pendapatnya (Saulus), tetapi juga jalan hidupnya sehingga namanya perlu diperbarui menjadi Paulus,” demikian pesan pastoral gereja yang berafiliasi dengan Protestane Kerk in Nederland (PKN), Belanda.

Di akhir pesan pastoralnya, BPMS GKI berpesan agar umat menjadikan hidup masing-masing sebagai alat-alat Tuhan dalam mempertemukan pengalamana rohani bersama Yesus kepada sesama.

Ini menjadi “wujud kerja nyata kita untuk menghadirkan kebangkitan Kristus dalam kedahsyatan cinta Sang Ilahi yang berupa buah-buah kebaikan bagi dunia.”(satuharapan.com/spw)

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *