Pura-pura kaya dan pura-pura miskin

Pdt. Rinto Tampubolon,

Hidup dalam kepura-puraan tentunya melelahkan. Lelah karena di dalam kepura-puraan kita sibuk “merias” diri, menjaga tampilan untuk menutupi jati diri. Kepura-puraan sendiri adalah bentuk latihan kecil menuju sebuah kebohongan.

Amsal 13:7 menampilkan contoh sebuah bentuk kepura-puraan. Dikatakan bahwa “Ada orang yang berlagak kaya, tetapi tidak mempunyai apa-apa, ada pula yang berpura-pura miskin, tetapi hartanya banyak.”

Rupanya di dalam hidup ini ada orang yang pura-pura kaya bagi yang tak punya dan pura-pura miskin bagi yang kaya. Apa sebenarnya yang sedang disembunyikan dalam kepura-puraan tersebut?

Bagi si miskin tampaknya ia sedang menyembunyikan kekuatiran atau ketakutannya akan dilecehkan atau tidak dihargai karena kemiskinannya. Dalam pribadi yang tidak kuat dan utuh, kemiskinan atau kekurangan diri dianggap sebagai hal yang mengancam keberadaan dan harga dirinya. Tentunya seseorang yang memiliki batin yang kuat tidak akan menggantungkan nilai dirinya dalam sebuah tampilan diri yang penuh kepura-puraan.

Bagaimana dengan orang kaya yang berpura-pura miskin? Apakah ini tanda kerendahan hati? Kerendahan hati tentunya bukanlah kepura-puraan. Kerendahan hati membuat si kaya tidak takut memperlihatkan apa yang ada pada dirinya tetapi tidak memegahkan diri atasnya.

Kekayaan yang ditutupi dalam lagak kemiskinan pastilah menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang disembunyikan biasanya berisi ketakutan atau kekuatiran. Bisa saja karena takut dikatakan sombong, bisa juga takut dimintai bantuan, bisa juga takut menjadi incaran kejahatan, atau takut ketahuan asal dari kekayaannya.

Apapun alasannya, pura-pura miskin sama tidak eloknya dengan pura-pura kaya. Si miskin yang pura-pura kaya tidak bersyukur atas berkat Tuhan yang ada padanya. Si kaya yang pura-pura miskin tidak jujur akan berkat Tuhan atasnya. Kedua-duanya sama-sama hidup dalam kepura-puraan.

Jadilah diri sendiri. Jalanilah hidup yang ada. Menjadi kaya atau miskin bukanlah sesuatu yang perlu disembunyikan atau pun dikejar. Jujurlah pada diri sendiri ketika berkaca melihat diri. Demikianlah kita bisa menjalani hari-hari tanpa harus sibuk menipu diri.

Telisiklah diri saudara, lihatlah apakah saudara hidup pura-pura kaya atau pura-pura miskin? Renungkanlah Amsal ini dengan sedalam-dalamnya.

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *