Refleksi Harian 23 Juni 2015

Bacaan: 1 Samuel 19:1-7; Kisah Para Rasul 27:39-44

Berani Melawan Kejahatan

Salah satu alasan kuat mengapa kejahatan dalam berbagai bentuknya: ketidakadilan, kekerasan terhadap anak, kekerasan seksual/pemerkosaan, bullying, penyiksaan terhadap binatang, dan lain sebagainya masih terus merajalela adalah karena kebanyakan dari kita tidak berani melawannya. Dengan dalih bahwa tidak ada apapun yang dapat kita perbuat, atau karena ketakutan akan keselamatan diri kita sendiri, kita diam ketika kita mengetahui atau melihat terjadinya tindak kejahatan. Kita lebih suka pura-pura tidak tahu, karena hal itu lebih aman dan nyaman bagi diri kita. Atau terkadang apa yang terjadi begitu mengejutkan bagi kita sehingga kita hanya dapat berdiri diam.

Suatu kali ketika saya sedang berada di kampus, saya mendengar suara anak kecil yang menangis. Ketika saya menemui anak kecil itu, ternyata dia baru saja bertengkar dengan adiknya. Saya berusaha melerai dan menenangkan mereka. Tidak lama kemudian, ayah kedua anak tersebut datang, dan ketika melihat kedua anaknya yang masih bersitegang, tiba-tiba saja Bapak itu menampar anaknya yang lebih besar, dan kemudian juga menampar adiknya. Saya mematung. Bahkan, dengan bodohnya, saya malah menjawab pertanyaan Bapak tersebut selanjutnya, yaitu hendak mengetahui letak ruangan salah seorang dosen. Saya tidak berani berkomentar mengenai apa yang dilakukannya terhadap anak-anaknya, dan sampai sekarang saya masih menyesali mengapa saya membiarkan hal itu begitu saja. Namun, jujur, saya tidak tahu apa yang seharusnya saya katakan kepada Bapak itu.

Dua tokoh dalam dua bacaan kita hari ini tidak berdiam melawan kejahatan. Dalam 1 Samuel, kita membaca mengenai Yonatan yang dengan berani menegur ayahnya. Tentu ada resiko bagi Yonatan untuk membela Daud, sekalipun terhadap ayahnya sendiri. Yonatan sendiripun jelas mengalami ketakutan. Buktinya, ia menyuruh Daud untuk bersembunyi sebelum ia berbicara kepada Saul. Dalam Kisah Para Rasul, sang perwira melawan prajurit-prajurit yang hendak membunuh para tahanan. Sekilas mungkin hal ini biasa saja, toh perwira tersebut merupakan atasan mereka sehingga berhak menghentikan mereka. Namun, jika kita ingat bahwa orang-orang ini baru saja terombang-ambing dan mengalami bencana, maka dapat kita bayangkan para prajurit mungkin sudah tidak peduli lagi dengan jabatan. Mereka hanya peduli akan keselamatan mereka. Bisa saja sang perwira diam, toh memang tindakan membunuh para tahanan dapat dibenarkan dengan alasan menghindari kemungkinan mereka melarikan diri. Tapi sang perwira mengambil resiko mengagalkan rencana para prajurit tersebut.

Beranikah kita untuk menjadi seperti Yonatan atau sang perwira yang angkat bicara melawan kejahatan?

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *