Refleksi Harian 27 Juni 2015

Bacaan: 1 Samuel 20:27-42; Lukas 4:31-37

Tentang Kasih
Masih bicara mengenai kasih, hari ini kita dihadapkan dengan sebuah perikop yang melawan sekaligus merangkum begitu banyak kenyataan tentang kasih di dalam kisah Daud dan Yonatan. Mari kita lihat dua di antaranya.

Yang pertama, perikop ini menunjukkan bahwa kebencian, iri hati, ketamakan, dan lain sebagainya, dapat menghilangkan kasih dalam diri manusia dan menggantikannya dengan kebencian. Inilah yang terjadi dengan Saul. Kebenciannya kepada Daud (yang bersumber pada iri hati akan kesuksesan Daud) menyebabkan ia gelap mata, selain hendak membunuh Daud, ia bahkan marah besar dan berniat membunuh Yonatan, anaknya sendiri, karena dianggap memihak Daud. Kita selalu berpikir bahwa kasih orangtua begitu besar kepada anaknya, namun kenyataannya tidak selalu demikian. Itulah sebabnya kita seringkali tidak percaya ketika mendengar adanya kasus-kasus pelecehan dan penyiksaan yang dilakukan orangtua kepada anaknya. Bagaimana mungkin? Kenyataannya, mungkin saja. Untuk itulah kita perlu juga waspada, dan mengenali tanda-tanda adanya kekerasan yang dialami dalam keluarga.

Yang kedua, perikop ini menunjukkan bahwa kasih yang sejati tidak terbatas pada ruang, waktu, dan tempat. Kasih seperti apa kasih yang sejati itu? Kasih di mana Tuhan hadir di tengah-tengahnya. Inilah terakhir kalinya Daud dan Yonatan bertemu. Bayangkan betapa beratnya perpisahan ini bagi mereka. Namun mereka tahu bahwa perpisahan ini harus terjadi. Di tengah perpisahan itu, mereka ingat akan janji bahwa kasih di antara mereka akan terus ada, karena Tuhan ada di antara mereka, dan bukan hanya mereka melainkan juga keturunan mereka. Bertahun-tahun kemudian, ketika Daud menjadi raja, dan Yonatan telah gugur di medan perang, Daud menepati janjinya dengan menunjukkan kasih kepada keturunan Yonatan. Dapatkah kita juga memiliki kasih seperti itu kepada sahabat kita?

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *