SEKIRANYA AJALKU SEPERTI AJALNYA

Pdt. Darwin Darmawan,

Kalimat di atas diucapkan Bileam, seorang dukun penenung, yang dibayar Raja Moab untuk menenung atau mengutuk orang Ibrani. Bileam bersemangat melakukan itu. Ia memantapkan hati untuk mengutuk orang Ibrani. Tetapi, tatkala hendak mengutuk, yang keluar dari mulutnya malah berkat dan apresiasi. Salah satunya, Bileam ingin meninggal seperti keadaan orang-orang Ibrani( Bil 23:10). Alkitab memang tidak mencatat seperti apa wujudnya. Mungkin, meninggal dalam kemuliaan. Beristirahat dalam damai, begitu biasanya orang bilang.

Semalam saya menghadiri kebaktian syukur 40 tahun pelayanan Pendeta Kuntadi Sumadikarya. Beliau adalah mantan ketua Sinode GKI SW Jabar selama 3 periode. Pribadinya kuat. Pemikiran intuitifnya menginspirasi. Dukungan dan dorongannya kepada saya, menolong saya keluar dari rasa minder dan belajar percaya diri. Ia mewarnai GKI SW Jabar secara signifikan, melampaui pengaruh organisasional di mana dia relatif lama berada di strukturnya. Saya menghormati dan mengaguminya.

Namun, saya sempat salah memahami(mungkin bisa dikatakan juga menghakimi) Pak Kuntadi. Dan itu terjadi lebih dari sekali. Saya sempat berontak dalam batin ketika Pak Kun kembali jadi Ketua Sinode untuk periode yang ketiga. Bukan karena iri. Tetapi, saya anak zaman reformasi, yang agak alergi dengan kekuasaan yang tidak dibatasi. Jadi, saya sempat menilainya seperti kebanyakan orang yang berkuasa: sudah duduk lupa berdiri.

Salah paham itu semakin kuat tatkala mendapat undangan syukuran 40 tahun kependetaan Kuntadi Sumadikarya. Apalagi tempatnya satu gedung dengan kantor Sinode. Dalam hati saya bertanya, apriori dan memberi judment tertentu terhadap hal ini.

Salah paham itu terkoreksi tatkala saya melihat suasana syukuran yang bersahaja. Juga melalui ibadah yang di dalamnya tidak ada kultus individu. Saya bersyukur sebab syukuran tersebut berpusat pada Kristus. Lagu yang dipilih, kotbah yang disampaikan, refleksi dari Pak Kuntadi, menolong saya melihat diri sendiri yang lemah dan berdosa dan semakin mengenal Dia yang rahmat-Nya sempurna.

Perjumpaan dengan Tuhan itu yang membuat saya beberapa kali menghapus air mata syukur dan malu. Apalagi di dalam refleksinya, Pak Kuntadi menuturkan tiga hal yang signifikan, yang menjadi alasan kenapa syukuran diadakan. Pertama, mungkin itu adalah perpisahan dengan kita. Karena sakit yang diderita, Pak Kun bersiap dengan suka cita bertemu dengan Kristus. Kedua, Pak Kun membagikan legacynya dalam wujud spiritual wisdom yang inspiratif. Menariknya, itu Pak Kun katakan karena anugerah Allah. Syukuran ini menjadi legacy yang menginspirasi. Jauh dari kesan pamer diri atau menunjukkan diri sempurna dan berprestasi. Ketiga, merayakan jejak langkah dan karya Tuhan di dalam hidupnya, yang diakui Pak Kun sebagai nobody menjadi somebody.

Syukuran dan spiritual wisdom yang saya dapatkan semalam mirip dengan perjumpaan Bileam dengan Tuhan. Bileam, yang tadinya menghakimi orang Ibrani jadi berubah, ingin hidup dan mati seperti mereka. Saya juga sama. Dari yang tadinya menghakimi berubah jadi mengucap syukur dan berharap: bisa seperti Pak Kun yang peka menelusur Tuhan dan (jejak karyaNya dalam) peradaban.

Semoga, semakin banyak orang di Indonesia yang suka salah paham seperti saya, bisa ber”jumpa” dengan Tuhan, sehingga hatinya tidak dikuasai curiga, penghakiman, permusuhan.

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *