Siap Diteladani dan Meneladani

Di beberapa komunitas sering terjadi ketidak-cocokan antara yang muda dengan yang tua, junior dengan senior. Bahkan ada orang tertentu sedemikian alergi dengan kata senior, dan lalu mengartikan pemakaian istilah senior sebagai selubung dari penindasan atau setidaknya pengendalian terhadap yang muda, yang junior.
Sebenarnya tak perlu ada kecurigaan berlebihan terhadap sebutan muda-tua, senior-junior. Sebutan ini hanya merupakan penanda umur atau panjang pendeknya pengalaman pada bidang tertentu. Senior dan junior justru dapat saling bekerjasama dan saling belajar. Atau setidaknya yang merasa senior perlu menjadi teladan bagi yang junior dalam konsistensi pada falsafah atau ajaran atau nilai-nilai komunitas, bukan hanya melalui kata-kata tetapi juga, bahkan terutama melalui sikap hidup atau perbuatan. Pada saat yang sama, sang junior perlu rendah hati untuk bersedia belajar dari pengalaman yang senior.

Rasul Paulus menggambarkan relasinya dengan Timotius dalam perspektif seperti ini. Rasul Paulus menulis: “Tetapi engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku.” (2 Tim. 3:10). Timotius bukan hanya mengikuti pengajaran Paulus, tetapi juga sikap hidupnya. Itu berarti Paulus pun berusaha keras untuk menjadi teladan yang baik bagi Timotius. Yang lebih tua berusaha keras agar dapat dan pantas diteladani, pada saat yang sama yang lebih muda perlu rendah hati agar bersedia meneladani. Lebih jauh, yang tua dan yang muda perlu saling belajar.

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *