Silakan Sebut Aku Anjing!

12381_450270481714815_887052601_nTulisan imajiner Pdt. Linna Gunawan berikut ini merupakan refleksi dari Markus 7: 24 -30 dan menutup deretan Refleksi Mingguan April 2013 seputar perempuan. Selanjutnya pada bulan Mei 2013 tema Refleksi Mingguan adalah seputar pendidikan. Selamat membaca, merenung dan membagikan!

Aku mendengar Yesus datang ke Tirus, daerah tempat aku tinggal. Seingatku, Dia seorang Yahudi, dan agak aneh kalau Dia berada di wilayah tempat orang-orang Yunani seperti diriku. Setahuku, orang Yahudi menganggap aku dan saudara sebangsaku adalah orang-orang najis (McKenzie 2012). Hampir mustahil ada seorang Yahudi mau datang ke daerahku. Ah… aku berhenti saja memikirkan segala kejanggalan mengenai kedatangan-Nya ke daerah kami. Bagiku, kedatangan-Nya seperti mimpi yang jadi kenyataan!

Aku sudah lama mendengar nama-Nya disebut-sebut oleh banyak orang sebagai Tuhan yang membuat banyak mujizat. Ada begitu banyak orang yang sudah disembuhkan-Nya. Aku juga mendengar Dia mampu mengusir roh jahat yang masuk ke dalam tubuh seseorang. Terus terang aku punya pergumulan yang sama. Suatu kali aku menyaksikan anakku tiba-tiba sakit aneh. Aku tahu sakitnya karena roh jahat ada di dalam tubuhnya. Tidak ada satu orang tabib atau “orang pintar” yang aku datangi sanggup mengeluarkan  roh jahat dari tubuh anakku. Aku sudah sempat frustasi memikirkan kondisi anakku. Saat aku mendengar Dia datang ke Tirus, aku sungguh merasa harapanku kembali muncul. Karena itu mengapa aku bersukacita mendengar kedatangan-Nya. Mimpiku akan terkabul, melihat anakku sembuh kembali.

Dengan semangat aku berlari menuju rumah di mana Yesus tinggal. Dari kejauhan aku melihat wajah Yesus begitu lelah. Dia terlihat seperti sengaja menyembunyikan diri dari banyak orang. Sebenarnya saat langkahku tinggal beberapa ratus meter saja dari depan pintu rumah itu, aku agak ragu untuk meneruskan langkahku menjumpai-Nya. Di kepalaku bermunculan pikiran-pikiran: maukah Yesus menolongku? Bukankah aku memiliki tiga “dosa” dalam pandangan orang Yahudi? Aku seorang perempuan; aku seorang Yunani keturunan Siro-Fenesia; aku memiliki anak perempuan yang dikuasai oleh roh jahat. Sedangkan Yesus, Dia seorang Yahudi, laki-laki, dan rabi (McKenzie 2012). Sebuah perbandingan bumi dan langit! Tapi aku tidak bisa menghentikan langkahku, tidak, tidak mungkin! Wajah anak perempuanku muncul begitu saja dalam pikiranku. Aku harus berjuang baginya. Aku ingin anakku kembali sehat!

Aku tersungkur di depan kaki-Nya. Aku tidak berani untuk berdiri apalagi memeluk tubuh-Nya. Bagiku berada di depan kaki-Nya adalah tempat yang layak buat orang seperti diriku. Aku menangis di depan-Nya, dan dengan suara terbata aku memohon Dia mengusir roh jahat dari tubuh anakku. Aku sungguh-sungguh berharap kepada-Nya. Aku percaya kepada-Nya seperti orang banyak berkata bahwa Dia seorang rabi yang baik hati dan selalu bersedia menolong.

Aku berusaha membuka telingaku lebar-lebar ketika Dia berkata: “Biarlah anak-anak kenyang lebih dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan kepada anak-anak dan melemparkannya kepada anjing” (Markus 7: 27). Tubuhku gemetar. Dia menyebutku anjing! Dia menyamakan aku dengan anjing! Aku dapat merasakan aliran darah turun dari kepalaku menuju ke wajahku. Pasti saat ini mukaku sangat merah padam mendengar Yesus menyamakan aku dengan anjing. Aku tahu apa artinya sebutan anjing bagiku. Memang sebutan ini bukan pertama kali aku dengar. Beberapa kali aku mendengar orang-orang Yahudi menyebut kaumku dengan sebutan anjing sebagai tanda penghinaan. Terus terang aku tidak pernah mengira sebutan itu tertuju pula kepadaku dan diucapkan oleh Yesus yang aku harapkan dapat menolong anakku.

Ingin rasanya aku lari dan pergi dari hadapan-Nya. Tapi bayangan wajah anakku yang sakit dan meraung karena roh jahat muncul di benakku. Tiba-tiba saja aku ingat banyak orang berkata Yesus sebagai rabi yang berbeda dari rabi lainnya. Dia selalu berani untuk hadir bersama orang-orang yang terpinggirkan walaupun masyarakat menganggap mereka hina. Dia tidak sungkan untuk berbicara dengan perempuan Samaria walaupun perempuan itu bukan perempuan baik-baik (Yohanes 4: 1– 42). Dia juga bersedia menyembuhkan hamba seorang perwira Romawi (Lukas 7: 1– 10). Dari ingatan ini, aku merasa Yesus bukan rabi yang rasis sekalipun sebutan “anjing” itu seolah bernada rasis terhadapku (Prior 2009). Mungkinkah Dia sedang menguji imanku, kesungguhanku dalam berharap kepada-Nya untuk kesembuhan anakku? (Lose 2012).

Terus terang aku tidak pernah tahu apa jawabannya, tetapi aku merasa tidak salah aku berharap dan memohon kepada Yesus. Aku tahu kasih-Nya tidak pernah berat sebelah kepada semua orang. Aku, seorang perempuan dari bangsa Yunani yang memiliki seorang anak yang dirasuk roh jahat, pasti tetap dikasihi-Nya. Dia pasti mendengar permohonanku. Dia pasti memperhatikan nasibku dan nasib anakku. Aura kasih-Nya begitu kuat walaupun Dia menggunakan kata “anjing” untuk menyebutku.

Entah dari mana asalnya keberanian itu muncul, aku menjawab perkataan-Nya: “Benar,Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak” (Markus 7: 28). Aku ingin Yesus mendengar bahwa aku, yang dianggap hina ini, tetap layak mendapat kasih-Nya. Aku, yang disebut “anjing,” tetap berhak memperoleh kemurahan Allah. Aku dan anakku tetap ingin menerima mujizat-Nya.

Aku tidak tahu bagaimana wajah Yesus saat aku merespon ucapan-Nya. Aku tidak berani menatap-Nya. Wajahku tetap kutundukkan pada kaki-Nya. Aku bersiap untuk menerima kemarahan-Nya sebab aku tahu jawabanku juga bukan jawaban yang sopan. Tapi aneh, Dia malah berkata bahwa anakku telah sembuh. Setan yang ada dalam diri anakku telah pergi. Semuanya karena perkataanku. Dia menganggap kata-kataku itu yang membuat-Nya mau menyembuhkan anakku. Perkataanku telah menggugah hati-Nya untuk berbelaskasihan terhadap penderitaan anakku.

Aku sungguh tidak menyangka betapa Yesus yang begitu berkuasa, terkenal, dan terhormat mau mengubah keputusan-Nya untuk menolongku dan anakku. Aku pikir disinilah sesungguhnya kemuliaan Yesus menjadi nyata. Dia tidak sungkan untuk berubah. Dia mau mendengar suaraku yang hina ini. Dia mau mengerti siapa diriku sebagai perempuan dari bangsa Yunani sekalipun Dia seorang laki-laki dariketurunan bangsa Yahudi. Dia menganggap aku dan anakku tetap berharga sebagai manusia yang berhak menerima belas kasih Allah (Lose 2012).[i] Sungguh tidak salah aku menganggap diri-Nya lebih dari seorang rabi. Dia adalah Tuhanku.

Ah, aku membayangkan betapa indahnya hidup ini apabila murid-murid Yesus yang sering berjalan bersama-Nya juga punya kebesaran hati seperti diri-Nya. Aku dan kaum perempuan tidak akan lagi terus menerus dianggap sebagai warga kelas bawah karena mereka pasti berlaku seperti Yesus yang menerima kami sebagai manusia. Aku dan saudara sebangsaku pasti akan diperlakukan layaknya saudara walaupun mereka berbeda suku bangsa dengan kami keturunan Yunani. Anakku pasti mereka perlakukan dengan kasih tanpa harus menghakimi keluargaku sebagai pendosa (Gregg 2012).

Aku sungguh-sungguh rela para murid Yesus atau orang banyak menyebutku anjing asalkan sebutan itu membawa perubahan dalam diri mereka dalam memperlakukan orang-orang yang mereka anggap hina sebagai manusia. Silakan sebut aku anjing asalkan mereka berani terbuka terhadap perbedaan dan tidak lagi berlaku semena-mena terhadap kaumku. Sebutan anjing, bagiku, bukan lagi sebuah bentuk penghinaan. Tetapi sebutan anjing menjadi panggilan perubahan paradigma bagi semua orang untuk memperlakukan sesamanya sebagai manusia ciptaan Tuhan yang berharga. Aku rela orang mengenalku sebagai perempuan Siro-Fenisia tanpa nama, dan memanggilku dengan sebutan anjing.

Bibliografi
Gregg, Carl. The Hardest Question. September 02, 2012.http://thq.wearesparkhouse.org/featured/ordinary23bgospel/ (accessed April 23, 2013).

Lose, David. Working Preacher. September 02, 2012.http://www.workingpreacher.org/craft.aspx?post=1625 (accessed April 23, 2013).

McKenzie, Alyce M. Jesus Is In the House. September 2, 2012.http://www.patheos.com/Progressive-Christian/Jesus-House-Alyce-McKenzie-09-03-2012(accessed April 22, 2013).

Prior, Andrew. One Man Web. September 09, 2009. http://onemansweb.org/theology/the-beginning—mark-1-1-15/dog-under-the-table—mark-7-24-37.html (accessed April 23, 2013).

[i] David Lose menyebutkan tindakan Yesus ini sebagai bentuk hospitalitas. Hospitalitas bukan hanya berarti memperlakukan orang asing dengan sopan dan baik; tetapi hospitalitas berarti kesediaan untuk terbuka terhadap karunia dan perspektif orang lain yang berbeda dengan kita. Ini yang dilakukan oleh Yesus terhadap perempuan Siro-Fenisia.

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *