Kisah Tiga Petak Sawah

Pdt. Rinto Tampubolon,

Ada tiga petak sawah yang letaknya tepat di tepian aliran air. Jarak mereka 1 km satu dengan lainnya.

Tibalah pada musim menanam padi. Benih benih mulai ditanam pada setiap petak sawah. Air pun mulai mengalir menuju petak sawah.

“Kalau aku menyalurkan air kepada petak sawah lainnya, bagaimana nanti kalau air itu habis. Aku akan kekurangan air dan benih-benih padiku akan mati”, ujar petak sawah pertama dalam hatinya. Ia pun kemudian menutup seluruh petaknya serapat-rapat mungkin. Tidak boleh ada sedikit pun air keluar darinya.

“Kalau aku menyalurkan semua air kepada petak sawah lainnya, maka aku akan kekurangan air. Tapi kalau tidak disalurkan kasihan juga petak sawah didekatku”, ucap petak sawah kedua. Ia pun membuka sangat sedikit celah air untuk mengalir.

“Aku tepat berada di tepi aliran air. Petak sawah lain jauh sekali dari air. Bagaimana air juga dapat mengairi mereka”, kata petak sawah ketiga dalam hati. Ia pun membuka aliran air secukupnya kepada petak sawah disekitarnya yang juga siap untuk menyalurkan air darinya.

Beberapa hari kemudian sang petani datang melihat petak sawahnya.

Ia melihat petak sawah pertama penuh dengan air dan mematikan benih-benih padi.

Petani meninggalkan petak sawah itu.

Petani kemudian ke petak sawah kedua. Ia menemukan petak sawah ke dua setengah banjir namun padi masih dapat bertumbuh. Ia perhatikan sekeliling petak itu. Ternyata hanya petak sawah terdekatnyalah yang tumbuh padi. Itu pun tidak bagus tumbuhnya karena air sangat sedikit.

Petani meninggalkan petak sawah itu dengan kecewa.

Petani tiba di petak sawah ketiga. Ia melihat hamparan sawah yang hijau segar. Ia sangat bahagia. Ia membangun gubuknya dan menjagai sawah itu dengan baik.

(Air adalah berkat yang mengalir. Petak sawah adalah manusia yang diairi oleh berkat itu)

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *