Laporan Lokakarya “Indonesia di Persimpangan”

Lokakarya Indonesia di Persimpangan. Foto: Pdt. Hendra

SINODEGKI.ORG – Pagi itu saya bergegas pergi menuju Ibukota negara yang jaraknya 80an kilometer dari tempat tinggal saya. Langit masih gelap berpadu dengan rasa kantuk yang masih tersisa. Perjalanan ini saya tempuh untuk memenuhi undangan seminar dan Lokakarya “Indonesia di Persimpangan: Negara Pancasila vs Negara Agama yang digelar oleh Indonesian Conference of Religion and Peace (ICRP) dan Institute for Interfaith Dialogue (Interfidei) bekerjasama dengan Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (ANBTI), Maarif Institute, Komnas HAM, Jaringan Antar-Iman Indonesia (JAII), Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) dan didukung juga oleh Media Indonesia

Di awal acara, aura kebangsaan sudah sangat terasa dengan nyanyian lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dinyanyikan oleh seluruh peserta acara. Bukan hanya lagu kebangsaan tetapi dibacakan juga teks Pancasila dan UUD 1945. Jujur saja saat itu terlintas dalam benak kenangan menjalankan upacara bendera saat sekolah dulu. Saya juga sadar ternyata saya sudah lama tidak ikut upacara bendera.

Setelah dibuka dengan resmi oleh Prof. Musda Mulia, sebuah pidato disampaikan oleh Buya A. Syafii Maarif yang saat itu menjadi pembicara kunci (keynote speaker). Dalam pidatonya Buya menyampaikan “Saya lelah sebenarnya kenapa Negara sebesar ini, sebagian besar Muslim, terpecah dan saling menghujat. Suriah, Irak, Mesir sudah hancur. Kita boleh menyalahkan Barat tapi juga harus tahu bahwa ideologi itu bisa masuk karena kita rapuh. Buya memakai istilah “Teologi maut” untuk menunjuk ideologi para teroris, berani mati karena tidak berani hidup, memonopoli kebenaran bahwa di luar kami haram. Negara tidak boleh kalah. Kita masih jauh dari Suriah, tapi harus hati-hati karena yang bertarung di sana juga banyak orang Indonesia penganut teologi maut. Indonesia adalah negara kita, negara Anda, negara saya, jangan biarkan tenggelam, jangan diam” tegasnya.

Beberapa pembicara dihadirkan dalam acara yang berlangsung di Hotel Aryaduta di daerah tugu Tani, Jakartaitu. Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyampaikan materinya setelah seorang pakar dari Nadhatul utama mengawali sesi yang menarik tentang perselingkuhan agama dan politik.

PAKAR Hukum Tata Negara Dr. Jimly Ashiddiqie juga memberikan pandangannya. Ia mengatakan bahwa Indonesia sebagai negara Pancasila sudah final. Tetapi masyarakat di dalamnya tetap membiarkan yang kiri, kanan, tengah, atas dan sebagainya untuk bergerak sebagai dinamika di tengah masyarakat. Jadi, tegakkan saja aturan-aturan yang sudah berlaku. Tegakkan hukum dengan tegas,” lanjutnya.

Ada satu hal penting yang Dr Jimly sampaikan yaitu bahwa kita semua harus optimis bahwa Indonesia pasti bertahan. Gunakan gaya komunikasi yang optimistis. “Sebab, jika kita pesimis dan khawatir negara ini terpecah belah seperti Suriah, nanti akan didengar dan membuat kelompok yang ingin memecah belah bangsa semakin bersemangat,” tuturnya.

Pembicara lainnya adalah Mantan Menteri Pekerjaan Umum Siswono Yudo Husodo. Bapak Siswono mengatakan bahwa di negara-negara mayoritas Islam ada persoalan dan kekhawatiran. Kaum ekstrimis awalnya kecil namun makin lama makin kuat. Kesalahannya adalah kita diam. Dalam perdebatan kita selalu kalah karena kaum ekstrimis mampu melakukan yang tidak bisa dilakukan kalangan yang moderat. Ajakan untuk tidak diam memberikan kesadaran pada saya bahwa memang kita cenderung memilih diam padahal kita tidak suka dengan gerakan radikal yang menabur kebencian yang ada di sekitar kita.

Dipenghujung penyampaiannya Bapak Siswono menyampaikan sebuah data. Berdasarkan survei, Indonesia ada di rangking 79 Negara paling bahagia. Saat ini negara yang paling bahagia itu Denmark dan Norwegia. Di negara-negara tersebut, gereja kosong di hari Minggu tapi uniknya penjara-penjara juga kosong. Sementara di Indonesia, masjid dan gereja penuh, tapi sayangnya penjara-penjara juga penuh sesak. Ada apa dengan kehidupan beragama kita?

Masih ada beberapa pembicara yang menyampaikan bahasannya dan ditambah lagi forum diskusi yang mengeluarkan beberapa butir masukan yang akan disampaikan kepada penyelenggara pemerintahan.

Walaupun saya tidak bisa mengikuti acara hingga akhir dikarenakan tugas pelayanan yang saya harus lakukan, saya merasa sangat diberkati dengan seminar dan lokakarya tersebut. Saya bertekad tidak lagi memilih diam apalagi tidak peduli saat ada kalangan fundamentalis yang berkoar mewarnai media maupun dalam relasi kehidupan bermasyarakat lainnya. Menghiasi media sosial dengan berbagai hal tentang kehidupan kebhinekaan yang sudah lama saya hidupi nampaknya bisa jadi salah satu perlawanan awal yang bisa saya lakukan agar Pancasila tak tergantikan dengan ideologi lainnya. (Pdt. Hendra Setia Prasaja)

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *