Pesan Pastoral dalam rangka Pilkada 2017

Badan Pekerja Majelis Sinode GEREJA KRISTEN INDONESIA

Pesan Pastoral dalam rangka Pilkada 2017

“Ya Tuhan , Engkaulah yang mengenal hati semua orang, tunjukkanlah kiranya siapa yang Engkau pilih…..” (Bdk. Kis. 1:23-24).

Segenap anggota jemaat dan simpatisan GKI yang kami kasih,

Pada 15 Februari 2017 bangsa kita akan melaksanakan hajatan demokrasi yaitu Pilkada serentak di 101 daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota). Dalam Pilkada ini kita wajib memilih pemimpin kita. Pilihan kita itu menentukan kehidupan kita bersama. Apalagi kita harus ingat bahwa pemimpin yang baik adalah hasil dari pemilih yang cerdas. Menyadari  tugas panggilan gereja yaitu –bersama semua orang yang berkehendak baik– membangun masyarakat berkeadaban, Gereja Kristen Indonesia (GKI)  merasa perlu untuk menerbitkan Pesan Pastoral. Kami harap Pesan Pastoral ini menjadi pedoman bagi semua simpatisan dan anggota jemaat GKI dalam menentukan sikap etis terhadap Pilkada serentak ini.

Makna Pilkada Serentak

Pilkada Serentak merupakan bagian dari upaya strategis membenahi mekanisme demokrasi kita dan agar meningkatkan efektivitas sistem pemerintahan Presidensial yang kita miliki. Sistem Pilkada Serentak ini sangat bermanfaat karena ia mempermudah teknis penyelenggaraan pemilu sehingga mengurangi apatisme pemilih, menghemat anggaran Negara dalam melakukan hajatan demokrasi, serta mengurangi potensi konflik dalam masyarakat.

Kita semua bertanggungjawab agar Pilkada serentak ini berjalan secara partisipatif, professional, akuntabel dan transparan. Kita harus ikut mengawasi agar beberapa persoalan yang sering muncul pada saat Pilkada bisa diminamalisir atau bila perlu dihilangkan. Beberapa persoalan itu adalah ketidakpastian regulasi, DPT (Daftar Pemilih Tetap), penyelenggara yang sering tidak independen, maraknya praktik politik uang yang dilakukan baik oleh kandidat maupun oleh Partai Politik, instrumentalisasi agama yang mengangkat sentimen SARA demi menggalang dukungan primordial dan sektarian, serta praktik kampanye negatif dan kotor yang berpotensi memecah-belah masyarakat.

Pilkada Serentak ini pun berpotensi menghadapi masalah-masalah serupa. Itulah sebabnya dibutuhkan kearifan dan profesionalitas lembaga-lembaga seperti KPU, sebagai penyelenggara Pilkada, pengawas Pilkda serta kerja keras aparat yang bertanggung jawab menjaga keamanan dan ketentraman selama Pilkada.
Antara Kebenaran dan Dosa!

Pilkada ini memperhadapkan kita pada pilihan-pilihan yang sering kali sulit. Pilihan apa pun yang akan kita ambil memiliki konsekuensi yang tidak kecil bagi kehidupan kita bersama sebagai bangsa dan negara. Meskipun demikian, kita harus menentukan sikap yang tepat dan bijaksana berdasarkan Firman Tuhan agar proses demokrasi bangsa kita semakin kokoh.

Kita ingat Firman Tuhan yang mengatakan: “ Kebenaran meninggikan derajat bangsa, tetapi dosa adalah noda bangsa” (Amsal Sulaiman 14:34). Kebenaran yang meninggikan derajat bangsa adalah ketika kita mengutamakan dan mengimplementasikan nilai keadilan, kesetaraan, integritas, dan gotong-royong yang menciptakan perdamaian dan kegembiraan bagi semua, baik pada saat Pilkada ini maupun setelah Pilkada. Ketika kebenaran diutamakan, Pilkada serentak ini akan menjadi pesta demokrasi yang memperkuat peradaban bangsa kita dan menjadi kehormatan dan kebanggaan bagi bangsa kita.

Sebaliknya, berdasarkan Firman Tuhan dari Kitab Amsal itu, kita harus menyatakan dengan tegas bahwa kita menolak kuasa dosa yang hendak menodai bangsa kita. Dosa berpotensi mendegradasi status kita dari bangsa yang beradab menjadi bangsa biadab. Dosa itu mengambil rupa ketidakjujuran, diskriminasi, nafsu pada kekuasaan, manipulasi suara, politik uang, pola-pola kampanye yang menggunakan isu SARA yang berpotensi memecah-belah persekutuan dan persaudaraan kita sebagai bangsa Indonesia.  Dalam iman dan kesetiaan kita pada Yesus Kristus, kita dengan tegas menolak dosa itu!

Dalam Pilkada Serentak ini, kita akan menentukan pilihan. Meski belum ideal dan banyak persoalan, kami berharap kita memanfaatkan kesempatan ini untuk berpartisipasi aktif. Jangan menganggap remeh pesta demokrasi ini dengan mengabaikan kesempatan dalam berpartisipasi. Sebab partisipasi dan pilihan anda sangat menentukan gerak langkah demokrasi kita kini dan mendatang.
Bertolak dari pemahaman tersebut, maka BPMS GKI menyerukan beberapa hal sebagai berikut:

  1. Kepada Pimpinan GKI di semua lingkup:
    • Sebagai gereja, kita dipanggil mengusahakan kesejahteraan kota (polis), di mana Tuhan menempatkan gereja-Nya. Gereja tidak boleh hanyut dan kehilangan jati dirinya lalu berubah menjadi instrumen kepentingan salah satu golongan, baik yang mengatasnamakan  agama, gereja, etnik atau marga. Gereja berdiri di atas semua golongan. Sebagai institusi agama, gereja tidak boleh terjebak memainkan atau ikut memanaskan isu agama dalam kontestasi politik. Sebaliknya, gereja harus menciptakan suasana yang tenteram dan damai bagi semua. Meskipun demikian, gereja harus berani menyuarakan suara kenabiannya terhadap siapa pun yang terjebak dalam ‘dosa’ yang menghalalkan segala cara demi nafsu pada kekuasaan.
    • Hindari penggunaan gedung gereja atau rumah ibadah sebagai ajang kampanye demi kepentingan aktor-aktor maupun partai-partai politik mana pun. Khotbah tidak boleh dimanipulasi menjadi kampanye bagi kandidat tertentu atau sebaliknya untuk menjelekkan kandidat lainnya. Gereja mempersiapkan warga jemaatnya agar mampu bersikap kritis terhadap politik uang, ketidakjujuran, pada sikap primordialistik-sektarianisme sempit yang berpotensi menimbulkan perpecahan internal gereja, dan perpecahan dalam masyarakat. Oleh karena itu, lebih daripada sekedar kritis, warga jemaat juga harus diberdayakan agar mampu berpartisipasi mengerjakan tanggung jawab politik mereka sebagai warga negara.
    • Sebagai bagian dari warga bangsa, Gereja terpanggil untuk berpartisipasi dan bekerjasama dengan siapa pun dalam mengawasi jalannya Pilkada Serentak. Kerjasama pengawasan Pilkada ini akan lebih baik bila dilakukan dalam kerjasama dengan berbagai elemen lintas agama dan dengan unsur LSM. Pengawasan di sini bukan saja menjelang dan pada saat Pilkada, tetapi juga setelah Pilkada. Artinya gereja berkewajiban mengingatkan umat untuk mengawasi kebijakan-kebijakan politik pemimpin yang terpilih agar berjalan sesuai dengan Konstitusi demi keadilan, kesejahteraan dan perdamaian bangsa.
  2. Kepada Seluruh Warga Jemaat:
    • Manfaatkanlah hak pilih Saudara dengan bertanggung-jawab.
    • Bangunlah pemahaman dan nilai yang kuat pada diri kita sendiri bahwa sebagai anggota gereja kita menentang semua hal yang melawan keadilan, kemanusiaan, keberagaman dan kehidupan. Untuk itu kita sendiri tidak akan membiarkan diri kita jatuh pada ketidakpedulian dan sikap primordial yang memilih secara buta personil dari kelompok atau agama tertentu dalam Pilkada serentak ini.
    • Terkait dengan hal di atas, pilihlah calon pemimpin yang memiliki kejujuran, berintegritas, memiliki keberanian melawan segala bentuk korupsi dan manipulasi, memiliki komitmen melayani, menghormati keanekaragaman bangsa, memiliki komitmen pada Konstitusi, memiliki kemauan bekerja keras untuk menciptakan keadilan, kesetaraan bagi seluruh warga negara, serta kebersihan dan keberlanjutan lingkungan hidup. Oleh karena itu, sebelum memilih, telitilah rekam jejak integritas dan kejujuran pasangan calon. Ujilah ucapan dan tindakan, visi serta misi mereka. Pertimbangkan dengan cerdas orientasi Partai Politik pengusung pasangan calon. Tolak pemakaian isu-isu SARA, isu gender, kampanye gelap yang menyudutkan salah satu pasangan calon, maupun politik uang.
    • Bila ada warga jemaat menjadi anggota tim kampanye salah satu calon pemimpin atau anggota Partai Politik tertentu yang mengusung salah satu pasangan calon, kami sampaikan bahwa kami sangat mendukung dan menghargai partisipasi anda dalam dunia politik praktis. Meskipun demikian kami juga ingin ingatkan agar berpartisipasilah dalam iman, integritas, kejujuran dan cinta kasih. Janganlah membawa pesan-pesan politik pasangan calon atau Partai Politik anda ke dalam jemaat melalui mimbar gereja atau melalui penggunaan ruangan dan fasilitas gereja. Beragamnya pilihan anggota jemaat berpotensi menimbulkan perpecahan jemaat.
    • Doakanlah aparat Keamanan agar mampu melakukan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik sehingga Pilkada dapat berjalan dalam suasana yang kondusif, aman dan tenteram bagi seluruh warga yang akan menggunakan hak pilih mereka.
    • Pilkada Serentak memberi beban sangat berat kepada pihak penyelenggara yakni KPU, Bawaslu/Panwas. Karena itu mari mendoakan KPU dan Bawaslu/Panwa agar mereka mampu melaksanakan mandat ini secara profesional dan bertanggung jawab, jujur, adil, transparan dan tidak memihak. Masa depan demokrasi kita bergantung pada integritas dan kejujuran para penyelenggara Pilkada.

Semoga Allah, Pencipta dan Pelantan Kehidupan, menaungi upaya baik kita semua sehingga Pilkada serentak sebagai pesta demokrasi Indonesia ini bisa dinikmati dalam kegembiraan dan perdamaian. Kiranya hikmat dan kebijaksanaan Kristus Yesus, Tuhan kita, yang melampaui segala pemahaman, dan penyertaan Roh Kudus, memberi kita semua hikmat dan keteguhan.

 

 

 

Pdt. Budi Cahyono Sugeng                                                                   Pdt. Arliyanus Larosa

Ketua Umum                                                                                                  Sekretaris Umum

 

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *