Refleksi Harian 13 April 2015

Daniel 3:1-30
1 Yohanes 2:3-11

Sadrakh, Mesakh, dan Abednego. Tiga nama yang cukup jarang kita dengar. Terlebih lagi nama asli mereka: Hananya, Misael, dan Azarya. Ketiga orang ini, bersama-sama dengan Daniel dan beberapa orang Yehuda lainnya yang berasal dari kaum bangsawan dan terpelajar, untuk dididik agar kemudian bekerja di istana raja Nebukadnezar. Di awal kitab Daniel kita membaca bagaimana keempat orang ini mengambil sikap tegas untuk tetap beriman kepada Allah Israel dengan menolak makanan dari meja raja, yang kemungkinan besar tidak dipersiapkan sesuai dengan hukum Taurat, bahkan telah dipersembahkan kepada dewa-dewa. Sikap ini ternyata berkenan kepada Allah, sehingga mereka diberkati dengan pengetahuan sepuluh kali lipat dari para ahli di kerajaan tersebut. Beberapa waktu kemudian, menyusul diartikannya mimpi raja Nebukadnezar oleh Daniel, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego diberi kuasa untuk memerintah seluruh wilayah Babel.

Sungguh sulit untuk dibayangkan bagaimana rasanya menjadi pemimpin bagi suatu wilayah yang asing, ditambah lagi mereka masih sangat muda. Tentu mereka menghadapi berbagai tantangan, namun ketiga orang ini memiliki integritas tinggi yang berasal dari iman kepada Tuhan. Demikianlah ketika mereka dilaporkan kepada raja Nebukadnezar karena tidak menyembah patung raja, mereka dengan tenang menyatakan posisi mereka, sekalipun mereka mengetahui bahwa yang mereka hadapi adalah ancaman maut. Menariknya, mereka bahkan mengatakan bahwa seandainya toh Tuhan tidak menyelamatkan mereka, mereka tetap tidak akan menyembah patung tersebut karena itu bertentangan dengan perintah Tuhan. Iman mereka kepada Tuhan adalah iman tanpa syarat, mereka tidak mengharapkan Tuhan memberikan imbalan keselamatan untuk apa yang memang sudah wajib mereka lakukan sebagai orang yang taat kepada hukum Taurat. Dan justru karena mereka tidak mengharapkannya, Tuhan menolong mereka. Bahkan, oleh karena iman mereka, akhirnya raja Nebukadnezar menunjukkan penghargaan kepada Allah Israel.

Bagaimana dengan iman kita? Apakah kita mampu mengatakan bahwa kita akan senantiasa taat dan percaya kepada Tuhan, bahkan ketika kita mengalami kesulitan dalam kehidupan kita? Apakah melalui keteguhan iman kita, orang lain dapat melihat bahwa sungguh, Tuhan adalah Allah yang luar biasa?

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *