Yang Salah Jangan Dipermalukan

Saya kira tak ada seorang pun yang ingin dipermalukan di depan umum. Semua manusia ingin agar orang lain tetap menghormatinya. Karena itu semua orang selalu berusaha agar perbuatannya yang keliru atau memalukan hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja. Kalau mungkin malah jangan sampai ada orang lain yang mengetahuinya.

Namun, seperti sudah umum terjadi, apa yang diharapkan itu biasanya berbeda dari apa yang diberikan. Orang yang tidak ingin dipermalukan justru sering mempermalukan orang lain. Hanya sedikit manusia yang berjiwa besar, yang tidak tega mempermalukan sesamanya, walaupun ia telah mengetahui sesuatu yang paling buruk dari orang tersebut. Hanya dalam sedikit peristiwa kita menyaksikan orang yang dengan besar hati menolong sesamanya untuk tidak dipermalukan. Dan di antara yang sedikit itu, tersebutlah kisah antara Saul dan Samuel.

Dalam 1 Samuel 15:24-34, diceritakan bahwa Saul –sebagaimana kebanyakan kita– tidak ingin dipermalukan di hadapan umum. Saul yang telah melakukan dosa di hadapan TUHAN, dan mengetahui dari Samuel bahwa karena pelanggarannya itu, TUHAN telah menolak dia sebagai raja atas Israel, tidak mau kehilangan muka di hadapan rakyatnya. “Aku telah berdosa; tetapi tunjukkanlah juga hormatmu kepadaku sekarang di depan para tua-tua bangsaku dan di depan orang Israel. Kembalilah bersama-sama dengan aku, maka aku akan sujud menyembah kepada TUHAN Allahmu” (1 Samuel 15:30).

Harapan Saul untuk tidak dipermalukan terlihat jelas dalam ayat ini. Anak kalimat: “…tetapi tunjukkanlah juga hormatmu kepadaku sekarang di depan para tua-tua bangsaku dan di depan orang Israel” mengekspresikan harapan Saul tersebut. Namun Saul di sini tidak sekadar berharap pada Samuel. Saul –dan inilah kehebatan dan sekaligus kebenarannya– berusaha dengan baik agar ia tidak dipermalukan. Ia tidak mati-matian membela dirinya. Ia juga tidak mengingkari perbuatannya. Ia tidak berbelit-belit dan mencari-cari alasan untuk membenarkan dirinya sendiri. Sebaliknya, dengan sikap satria, Saul mengakui kesalahannya di hadapan TUHAN melalui Samuel: Aku telah berdosa, sebab telah kulangkahi titah TUHAN dan perkataanmu; tetapi aku takut kepada rakyat, karena itu aku mengabulkan permintaan mereka. Maka sekarang, ampunilah kiranya dosaku … “ (1 Samuel 15:24, 25a)

Di sini jelas bahwa Saul berbuat dosa karena desakan rakyat. Apa yang muncul dari rakyat atau mengatasnamakan rakyat atau orang banyak itu ternyata tidak selamanya benar dan berkenan pada TUHAN. Walaupun demikian, Saul tetap mengakui bahwa itu kesalahannya. Ia tidak melemparkan kesalahan kepada rakyatnya. Sebagai pemimpin, Saul menyadari bahwa dirinyalah yang harus bertanggung jawab atas apa pun yang telah diputuskannya, walaupun usulan itu datang dari orang banyak.

Sikap inilah yang pada akhirnya telah mendorong Samuel untuk mengabulkan permohonan Saul. Ayat 31 menyaksikan, “Sesudah itu kembalilah Samuel mengikuti Saul. Dan Saul sujud menyembah kepada TUHAN”.

Peristiwa ini mengandung nilai edukatif yang sangat tinggi dan relevan atas ramainya jagat media sosial berkaitan dengan tanya jawab antara pengacara dan tersangka dengan saksi yang diajukan jaksa penuntut dalam kasus Ahok beberapa waktu yang lalu. Baik Saul maupun Samuel meneladankan sikap yang baik untuk kita ikuti. Dari Saul, kita belajar bagaimana menghindari keadaan dipermalukan di depan umum itu. Dan dari Samuel, kita belajar bahwa dengan jiwa besar kita mampu menolong orang lain untuk tidak dipermalukan di depan umum. Dari Saul, kita belajar tentang sikap yang harus kita kembangkan agar orang lain yang mengetahui perbuatan kita yang keliru tidak terpancing untuk mempermalukan kita dihadapan umum, yaitu: tidak bersikap defensif, melainkan kesatria. Kita tidak perlu secara mati-matian, apalagi membabi-buta, mengingkari kesalahan yang memang kita lakukan. Kita juga tidak perlu memakai norma sopan santun, sekedar untuk menutupi kesalahan yang telah kita lakukan. Dan dari Samuel, kita belajar bahwa kita dapat tetap menegakkan kebenaran dan keadilan tanpa kehilangan kemampuan mengendalikan diri untuk tidak mempermalukan orang lain yang kesalahannya kita ketahui.

Soalnya ialah: Maukah kita belajar dari kedua tokoh ini? Maukah kita bertindak kesatria seperti Saul dan berjiwa besar seperti Samuel?

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *