Pesan Pastoral Paskah Sinode GKI 2016

KEBANGKITAN KRISTUS MENGUBAH ARAH TUJUAN HIDUP KITA DAN SELURUH CIPTAAN

(BELAJAR DARI PERUBAHAN PAULUS)

Thomas Carlyle menuliskan, “The man without a purpose is like a ship without a rudder – a waif, a nothing, a no man” – “Manusia tanpa sebuah tujuan adalah ibarat sebuah kapal tanpa kemudi – anak terlantar, bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. Sebuah kapal tanpa kemudi menggambarkan manusia tanpa sebuah tujuan, yang bergerak tanpa arah, tanpa makna, ikut arus, dan tidak jelas. Disebut anak terlantar, bukan apa-apa, bukan siapa-siapa karena tanpa sebuah tujuan maka manusia menjadi tak berarti. Manusia yang tanpa tujuan seperti ini sering dipandang sebagai “manusia zombie” – manusia tanpa roh, yang bergerak tak tentu arah, bergerak hanya untuk mendapatkan asupan dirinya.

Pada zaman sekarang ini “manusia zombie” rupanya relatif banyak ditemukan. Itulah sebabnya film Holywood dengan tema zombie cukup banyak beredar belakangan ini. Film-film itu seolah mau menggambarkan bahwa pada era modern ini, era yang dilingkupi oleh semangat kapitalisme, neoliberalisme, dan budaya hedonisme, banyak manusia hidup dan bergerak tanpa tujuan yang jelas dan bernilai, cenderung hanya untuk mendapatkan asupan dirinya, entah berupa materi, kesenangan diri, atau kehormatan diri. Pada zaman sekarang ini banyak orang hidup dengan digerakkan oleh materialisme. “Memiliki lebih banyak harta, maka aku lebih aman, lebih hebat, dan lebih bahagia.” Itulah falsafat hidup mereka.Yang lain berpandangan, “Aku belanja, maka aku ada” – “Emo ergo sum”.

Di samping oleh materialisme, ada aneka hal lain yang menggerakkan manusia, yang sesungguhnya tidak mencerminkan tujuan mulia sebagai manusia ciptaan Allah. Ada yang digerakkan oleh rutinisme. Apa yang sudah ada, itulah yang terus kujalani. Ada yang digerakkan oleh luka-luka masa lalu, misalnya oleh perasaan bersalah yang mendalam seperti Yudas Iskariot. Ada yang digerakkan oleh perasaan takut atau oleh luka kebencian dan kemarahan. Beberapa orang lain digerakkan oleh kebutuhan akan pengakuan diri atau hasrat untuk diterima,  dipuji dan dihormati orang lain. Semua ini sesungguhnya adalah gerak yang nihil tujuan yang jelas dan bernilai.

Rasul Paulus pernah mengalami hal ini.  Sebelum menjadi pengikut Kristus, ia adalah orang yang digerakkan oleh kebutuhan akan pengakuan diri. Dari pengakuannya sendiri dan dari laporan Lukas, kita mengetahui Paulus digambarkan dan menggambarkan dirinya sebagai orang Ibrani asli (lihat: Rm. 11:1, 2Kor. 11:22, Flp. 3:5; Kis. 22:3). Lahir di kota Tarsus di tanah Kilikia, dari keluarga Yahudi suku Benyamin di perantauan (diaspora). Bernama Yahudi Saulus (Saulos dari kata ‘Saul’ raja pertama Israel dari suku Benyamin, suku paling kecil di Israel – 1Sam. 9:21). Bernama kedua Paulus,  yang berarti ‘kecil’, yang menunjukkan bahwa ia dan keluarganya adalah warga negara Romawi (Kis 22:25).

Ia juga seorang murid yang cakap, teguh berpendirian, dan serius; seorang murid yang lebih maju daripada teman-temannya (Gal. 1:14). Keseriusannya dalam belajar ternyata digerakkan oleh kebutuhannya akan pengakuan diri, hasrat untuk diterima, bahkan dipuji dan dihormati oleh teman-teman Yahudi lainnya, sehingga ia mengutamakan hal-hal lahiriah. “Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi.” Ia menjadi seorang Farisi yang “brutal maksimal”: “Sebab kamu telah mendengar tentang hidupku dahulu dalam agama Yahudi: tanpa batas aku menganiaya jemaat Allah dan berusaha membinasakannya” (Gal. 1:13). Namun, Paulus yang ‘brutal maksimal” menerima kasih Allah: “Aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihi-Nya”(1Tim 1:13). Yesus yang bangkit itu menjumpai Paulus ketika ia dalam perjalanan ke Damsyik. Perjumpaan itu pada gilirannya mengubah perjalanan hidup Paulus.

Setelah mengalami kuasa dan kasih karunia Allah di dalam Kristus, Paulus menjadi murid Kristus yang cakap, teguh berpendirian, dan serius. Karakter ini tidak berubah pada diri Paulus. Namun karakter ini sekarang dibungkus dalam hikmat Allah yang penuh kasih dan kuasa. Paulus menjadi seorang murid Kristus yang terus berusaha menjadi serupa dengan Kristus. Paulus menyatakan, “Apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malah segala sesuatu kuanggap rugi karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah supaya aku memperoleh Kristus” (Flp 3:7-8).

Paulus mengalami perubahan besar di dalam hidupnya. Ia yang dahulu hidupnya digerakkan oleh kebutuhan akan pengakuan dirinya, oleh hal-hal lahiriah, kini menjadi Paulus yang digerakkan oleh pengenalan akan Allah di dalam Kristus yang bangkit. Tulis Paulus, “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya dimana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati” (Flp 3:10-11).

Bertolak dari perubahan Paulus ini, kami mengundang seluruh simpatisan dan angggota GKI untuk merenungkan beberapa hal berikut ini:

  1. Apa yang menggerakkan hidup kita sesungguhnya: materialism, rutinisme, luka-luka masa lalu, kebutuhan akan pengakuan diri, hal-hal lahiriah? Apakah kita memiliki tujuan hidup yang jelas dan benar? “Tragedi terbesar (bagi manusia) bukanlah kematian, melainkan kehidupan tanpa tujuan,” (Rick Warren). Hidup tanpa tujuan yang jelas dan benar menjadikan kita sebagai manusia zombie, atau mesin, atau bukan apa-apa (nothing), bukan siapa-siapa (no man).
  2. Apakah kita sungguh menghidupi pekerjaan atau profesi kita sesuai dengan iman Paskah Kristus? Apakah dalam menjalankan pekerjaan atau profesi, kita memancarkan kemuliaan Kristus yang bangkit? Apakah ketika memerankan profesi, kita mau menyatakan seperti Rasul Paulus bahwa hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan; dan jika harus hidup di dunia ini, maka itu berarti bekerja memberi buah (Flp. 1:21)?
  3. Apakah hidup dan gerak kita sebagai gereja sungguh tertuju kepada Kristus sebagai Kepala dari segala yang ada? Bagaimana kewaspadaan kita terhadap roh materialisme dan roh rutinisme yang beredar di sekitar kita? Bukankah perjuangan kita sesungguhnya “melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara” (Ef. 6:12)?

Kita tidak akan menjadi gereja zombie jika kita sungguh hidup dan bergerak dengan tujuan yang jelas dan benar selama di dunia ini, dalam kasih karunia Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus.

Akhirya, Selamat Paska. Semoga kebangkitan Kristus mengubah arah tujuan hidup kita dan seluruh ciptaan menuju kemuliaan Allah.

Badan Pekerja Majelis Sinode GEREJA KRISTEN INDONESIA,

Pdt. Budi Cahyono Sugeng               Pdt. Arliyanus Larosa

Ketua Umum                                         Sekretaris Umum

0 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *